Paman Donald Jadi Presiden

OOO sekali lagii OOOOO…

OOOO M G Paman Donald Jadi President !!!

Bahkan mimpi siang bolongpun ga berani memimpikan Donald Trump menjadi presiden. Namun itulah kenyataannya, sang bintang reality show The Apprentice akan menjadi Presiden AS selanjutnya setelah Obama ( lesson learn : bikin reality show kalo mau jadi presiden 😝 ).

Sikap Donald Trump yang gemar berbicara seenaknya, kontroversial, super confident membuat investor global khawatir rencana – rencana nyelenehnya direalisasikan. Dimulai dari fokus boosting infrastruktur dengan membangun tembok perbatasan dengan mexico ala2 tembok berlin, melarang orang muslim datang ke AS, sampai ide meminta hutang pemerintah AS tidak perlu dibayar sepenuhnya ( what ??? )

Satu hari setelah Donald Trump terpilih para analis wall street membuat perkiraan dampak dari terpilihnya Trump. Salah satu peryataan donald trump ketika berkampanye adalah akan memangkas pajak pendapatan individu dan ekspansi fiskal aka nambah hutang dengan tujuan meningkatkan aktivitas ekonomi dan konsumsi masyarakat.

Para analis berpendapat apabila kebijakan tersebut direalisasikan akan membuat inflasi naik lebih cepat dari ekspektasi sebelumnya. Melihat kemungkinan tersebut maka potensi kenaikan suku bunga acuan AS akan menjadi lebih cepat, dan otomatis yield dari Obligasi AS juga meningkat pesat, dari sebelumnya berkisar 1,5 – 1,8% langsung melonjak hingga 2,2% !!

seketika itu juga jegeeeer !!! indeks negara berkembang berguguran, mata uang terhadap USD melemah dalam, yield obligasi meningkat pesat sejalan dengan obligasi AS.

untuk catatan saja suku bunga acuan idealnya lebih tinggi dari inflasi ( kalo ga rugi donk nabung ), sementara yield/bunga obligasi acuan (10 tahun) diatas dari suku bunga acuan

bunga obligasi adalah bunga yang dibayarkan pemerintah ketika menerbitkan surat hutang, makin rendah makin bagus buat pemerintah, logika nya sama lah kayak kita kalo ngajuin KPR pengennya bunga pinjaman serendah rendahnya kan.

Indonesia contohnya inflasi saat ini 3%, sementara suku bunga acuan 4,75%, dan obligasi acuan ( tenor 10 tahun ) 7,8% saat ini. Selisih saat ini antara inflasi dan obligasi acuan terlalu jauh dari biasanya, average dalam beberapa tahun terakhir selisih 2%, jadi dengan inflasi 3% idealnya yield obligasi 5%. Tentu ini tidak bisa selalu dijadikan patokan, namun dapat kita jadikan gambaran dalam kondisi normal selisih tidak akan jauh dari average.

Sementara untuk AS saat ini inflasi 1,5%, suku bunga acuan 0,3 – 0,5%, dan yield obligasi AS 2,2%.

Naiknya yield obligasi AS membuat panik pelaku pasar global. Di Indonesia bahkan rupiah terkoreksi hingga 13.800 sebelum ditutup dikisaran 13.350 setelah diintervesi BI jumat kemarin, IHSG terkoreksi 4%, yield obligasi naik dari 7,3% menjadi 7,8%. Cerita ini masih belum selesai karena baru terjadi jumat 11 november kemarin.

Memang kenapa sih pasar kita terguncang ?? menurut penulis ada dua alasan kuat :

  • Dengan inflasi akan meningkat pesat maka gubernur bank sentral AS ( The FED ) harus menaikkan suku bunga AS kelevel seharusnya. Dengan inflasi diharapkan 2% maka suku bunga AS harus berada diatas itu dibandingkan level saat ini yang masih 0,5%. Logikanya bila suku bunga AS naik maka akan lebih banyak masyarakat menyimpan dananya diperbankan, hal ini mendorong mata uang AS menjadi lebih kuat. Sementara pergerakan mata uang negara berkembang kerap berbanding terbalik dengan AS sehingga dengan penguatan ini membuat mata uang negara berkembang melemah.
  • investor global mencari keuntungan dengan mempertimbangkan faktor risiko masing2 negara. Negara yang dipandang memiliki memiliki risiko terendah ( kredit rating AAA ) adalah AS. Dengan imbal hasil dari AS saat ini meningkat maka membuat hitung2an investor global lebih menarik berinvestasi di AS daripada negara lainnya, apalagi terdapat risiko mata uang akibat menguatnya USD. Hal ini membuat para investor melakukan aksi jual dipasar negara berkembang dan kembali berinvestasi di AS. Indonesia tidak luput dari aksi jual ini, terlebih dengan track record rupiah yang sangat fluktuatif membuat investor global ngerii memegang rupiah

Walaupun terjadi ketidakpastian menantikan kebijakan sang presiden terpilih, namun dalam hal kekhawatiran ini penulis memandang ini hanya risiko finansial sesaat, dan tidak perlu ditanggapi berlebihan, lagi panik mode on saja

Alasan kuat kenapa penulis yakin kestabilan akan segera terjadi adalah memang sejak tahun 2000an rata – rata inflasi AS hanya berada dikisaran 2%, dengan imbal hasil sudah menyentuh 2,2% maka upside dari imbal hasil tidak lagi banyak, bahkan ini cenderung terlalu mengantisipasi kenaikan suku bunga AS. Bisa dilihat pada chart dibawah bila ditarik garis maka rata – rata inflasi AS sekitar 2%. Pernah terjadi inflasi naik ke 4% dan suku bunga 5% ketika invansi AS ke irak dan booming properti AS, namun peristiwa ini merupakan suatu anomali dan hampir mustahil terjadi dalam waktu dekat, apalagi melihat kondisi ekonomi global yang terus melambat.

ustfed

asia-yield

Alasan kedua adalah imbal hasil obligasi Indonesia saat ini terlalu tinggi !! Dengan status Indonesia sebagai negara yang menyandang layak investasi dari beberapa lembaga rating, rasio hutang terhadap GDP rendah + ekonomi Indonesia yang sedang dalam uptrend maka sudah sewajarnya imbal hasil terus menurun.

Kalau bicara obligasi ( surat hutang ) tentu fokus utamanya adalah kemampuan membayar si kreditur, dalam hal ini negara. Dengan rasio hutang Indonesia hanya sekitar 27% merupakan salah satu yang terendah di Asia ( kageet yaa 😛  ), dan defisit fiskal dibawah 3 % tergolong rendah ( selisih pemasukan negara -kurang penerimaan negara yang ditambal dengan menerbitkan surat hutang ) maka kualitas kemampuan membayar pemerintah Indonesia sangat tinggi. Memang bukannya tanpa kelemahan, fluktuasi rupiah merupakan Pe-er yang harus dikerjakan BI dan pemerintah, namun bila mengacu pada fondasi utama Obligasi Indonesia sangatlah bagus.

Lucu rasanya melihat Obligasi Indonesia saat ini yield nya lebih tinggi dari Filipina, apalagi vietnam. Dengan melihat ini maka sudah sewajarnya yield obligasi Indonesia perlahan – lahan akan kembali turun. Menurut pandangan penulis sebelum periode pemerintahan Jokowi berakhir yield obligasi Indonesia akan menyentuh kepala 5.

So dengan volatilitas yang terjadi sekarang kita ga perlu panik, memang wajar terjadi fluktuasi, tapi ini ga akan berlangsung selamanya, justru yang punya fresh cash sekarang saat yang menarik masuk kepasar obligasi Indonesia melalui reksadana pendapatan tetap.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: