Berhenti Berpikir Belajar Tidak Harus Disekolah

tidak harus disekolah

Mendengar Bill Gates, Mark Zuckerberg, Steve Jobs yang drop out dari sekolah seperti membuat pembenaran belajar tidak harus disekolah. Membuat orang mengidolai street learner seperti mereka. Namun kita harus ingat mereka adalah orang – orang jenius yang kuliah di universitas Top AS, mereka mengawali pendidikannya juga melalui sekolah, dan selanjutnya dengan kemauan kuat mereka mampu berkembang sendiri. Mungkin orang – orang seperti mereka hanya kurang dari 0,1% didunia !! lalu bagaimana 99,9% sisanya kalau ikutan drop out ??

Setelah menghabiskan waktu 3 minggu di Afrika terutama Namibia, penulis menjadi menyadari betapa besar potensi wisata yang dimiliki negara ini. Alam yang sangat eksotis dengan aneka ragam fauna. Namun dibalik besarnya potensi ini, Namibia sama halnya dengan negara afrika lainnya, masih terjerat dalam kemiskinan. Walaupun pendapatan rata – rata masyarakat pertahun (GDP Per Capita ) mencapai USD 6000, diatas Indonesia yang hanya 3900, namun angka pengangguran di Namibia mencapai 34% !!! itu artinya 1 dari 3 orang disana menganggur. Dari sini penulis menjadi menyadari Afrika memiliki masalah besar yang fundamental. Selama mereka belum mampu mengejar ketertinggalan ini, mereka akan terus tetap menjadi negara urutan terakhir..

Pendapatan Tinggi Pengangguran Tetap Banyak

Bila melihat dari kacamata helikopter, beberapa rasio ekonomi sepertinya namibia baik – baik saja. GDP per capita bagus, rasio hutang 40% masih dapat diterima, inflasi 5% cukup bagus, suku bunga 6,75% cukup rendah, kontribusi tourisme terhadap ekonomi belasan persen bahkan jauh lebih baik dari Indonesia. Terlihat dari sini sepertinya tidak ada yang salah, sebelas dua belas lah dengan Indonesia, malah dalam beberapa hal lebih baik. Naah kalo gitu kenapa penganggurannya bisa mencapai 34% ??

Disinilah perbedaan nyata bila kita melihat dari kacamata helikopter dibandingkan dengan terjun langsung dilapangan. Ketika penulis datang ke Namibia, penulis tidak tahu sama sekali mengenai kondisi negara tersebut. Selama berkeliling – keliling disana penulis menyadari satu hal yang terlihat sangat jelas, industri kreatif mereka masih lemah sekali. Padahal Namibia dapat dikatakan negara wisata, namun souvenir – souvenir yang mereka buat masih sangat ala kadarnya. Bahkan ketika penulis berada di airport internationalnya yang ukurannya tidak lebih besar dari aiport di Yogyakarta, penulis hanya melihat souvenir – souvenir yang bisa dibilang jelek. Value creation disana masih sangatlah rendah. Memang kalau melihat kontribusi turisme terhadap ekonomi yang sekitar 15%, menteri pariwisata disana bisa berbangga hati, namun bila melihat kondisi riil yang ada, turisme disana masih sangat – sangat jauh dari potensinya. Dengan value creation yang sangat minim maka tidak menciptakan lapangan kerja baru..

Idealnya turisme itu dapat memberi banyak nilai tambah dan lapangan kerja baru. Namun dari cinderamata nya saja penulis sangsi itu dibuat dinegara tersebut. Dari sini penulis curiga pada satu hal, pendidikan !

Penulis percaya Pendidikan merupakan jalan untuk menciptakan sumber daya manusia berkualitas dan kompetitif. Dari sini penulis langsung mengecek data indeks kompetitif, dan terbukti kecurigaan penulis, indeks kompetitif Negeri yang indah ini hanya berada diperingkat 90, sementara Indonesia sudah berada di peringkat 36 dunia, sangat jauh sekali

Bila kita perhatikan lebih jauh ternyata ini lah masalah utama negara – negara Afrika. Afrika Selatan negara termaju dibenua ini saja hanya menempati peringkat 63. Yang lainnya ga usah diomongin, juara dari belakang semua.

tidak harus disekolah, Berhenti Berpikir Belajar Tidak Harus Disekolah, SlaveBerdasi-Analisa Saham

Indeks Kompetitif

Pendidikan Sebagai Solusi Untuk Keluar Dari Kemiskinan 

Dari sini kita perlu memberikan panggung yang lebih besar dunia persekolahan. Kita kesampingkan istilah street learner yang keren, belajar tidak harus disekolah, kalau mau bikin negara maju memang ya wajib belajar !! lihat Jepang, Jerman, negara skandinavia dan negara maju lainnya, semua pasti memiliki tingkat pendidikan yang tinggi. Kalau tidak punya kemauan kuat belajar sendiri kayak Steve Jobs, ya belajarlah bersama – sama disekolah.

Dengan baiknya kualitas sumber daya manusia,  maka dapat meningkatkan kewirausahaan, industri kreatif, ataupun karyawan siap kerja. Dan pada akhirnya ini dapat menurunkan tingkat pengangguran yang super tinggi dinegara tersebut.

Pemerintah Namibia bukannya tidak menyadari hal tersebut. Terlihat secara rasio dana pendidikan yang dikeluarkan pemerintah Namibia mencapai 8% dari ekonominya, sudah 2X lipat lebih dari Indonesia. Namun itu masih jauh dari cukup untuk mengejar ketertinggalan dari negara lainnya.

Korupsi Boleh Asal..

Disatu waktu penulis diberitahukan besarnya masalah korupsi dibenua Afrika yang membuat negara – negara disana sulit maju. Namun setelah penulis cek berdasarkan riset World bank fakta menunjukkan Indonesia negara yang jauh lebih korup !! Indonesia berada di peringkat 90 sementara Namibia peringkat 53.

Mungkin ada benarnya kata almarhum ayah teman penulis. Sebetulnya korupsi itu bila dananya tetap diinvestasikan dinegara itu maka akan membuat ekonomi negara maju, dan itulah yang dilakukan malaysia dan membuat mereka lebih maju dari Indonesia walaupun mereka juga memiliki tingkat korupsi yang tinggi ( kata almarhum ayah teman penulis loo ). Dalam hal ini Penulis setuju dengan pemikiran tersebut tanpa membenarkan korupsi, yang negara butuhkan untuk membuat negara semakin maju adalah investasi, dan investasi jelas butuh uang, maka pemikiran bila uang korupsi tetap dipakai dinegara tersebut untuk memajukan negara bukanlah pemikiran yang salah.

tidak harus disekolah, Berhenti Berpikir Belajar Tidak Harus Disekolah, SlaveBerdasi-Analisa Saham

Belajar Tidak Harus Disekolah Bukan Untuk Semua Orang

Penulis dapat mengatakan kalau penulis sendiri orang yang gemar belajar walaupun tidak gemar ujian =P. Penulis juga kurang cocok dalam konsep sekolah yang memberikan panggung besar untuk anak super, yang pintar, cepat, dan pandai bicara. Penulis tidak terlahir dengan bakat itu, namun untungnya itu tidak menghentikan rasa ingin tahu penulis, keinginan untuk terus belajar. Dengan pengalaman yang kurang baik dimasa itu membuat penulis juga memiliki filosofi belajar tidak harus disekolah. Namun janganlah disalah artikan, justru dengan belajar tidak disekolah penulis menjadi sangat memahami pentingnya sekolah.

Memang keren mengidolai para street learner seperti Steve Job dll. Yang perlu diteladani dari mereka adalah kemauan kuat untuk terus maju, mereka sudah melangkah jauh lebih maju dari konsep sekolah yang kaku, dan membuat mereka menjadi orang – orang tersukses dunia. Namun bila kita berbicara negara terbelakang, masyarakat kurang beruntung, maka pendidikan adalah jalan untuk melakukan perubahan besar menjadi lebih baik, dan itu semua dimulai dari sekolah. Untuk membuat negara semakin maju, untuk memberikan kesempatan bagi mereka yang terlahir tidak mampu, maka kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang baik adalah jalan keluarnya.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: