Analisa Saham ADMF

saham admf

Beberapa waktu yang lalu penulis ngopi – ngopi dengan teman baik penulis dari kecil. Dia saat ini bekerja disalah satu perusahaan konglomerasi terbesar di Indonesia dengan profesi sebagai jubir ;).

Seperti biasa penulis hobi ngorek – ngorek nyari bisikan, secara tempat doi kerjakan perusahaan listing. Penulis awalnya bertanya mengenai penjualan kendaraan uda recover belom, tapi akhirnya nyasar ke yang laen – laen.

Yang membuat penulis shock mendengar cerita dari doi, penjualan kendaraan roda dua perusahaannya. Yang investasinya mahaal, maintenancenya juga mahal, tenaga kerjanya banyak, izinnya ribeet, ngelolanya dijamin pusink, laba bersihnya kalaah sama anak usaha multifinancenya yang kerjanya ngasi pembiayaan buat beli motor.

Jadi perusahaan yang kerjanya bikin sekaligus jual motor kalah sama perusahaan yang ngasi pinjaman ke consumer buat beli tu motor ??

Betuuul!!!!

Ueeedaaan !!!

Gilee sadiis beneer yaa bisnis multifinance ituu, legiiiit cuiii

Modal Cuma ngutang, trus ngutangin orang yang BU..

Pantesaan ni negara ekonominya gini gini aja. Yang banyak duitnya bisnis renteniiir, sementara bisnis riil bikin sesuatu yang ngasi added value malah kecil untungnya, sapa yang mo bisnis manufaktur kalo gini ckckck. Kalau ada orang pemerintah yang baca ampun ! ampun ! ini cuma personal opini Oom.

Awal ketertarikan penulis terhadap multifinance berawal ketika membeli saham ADMF ( Adira ) diharga 3000an awal 2016 lalu. Iyaa sekarang uda 9000an tauu. Tapi bukan kenaikan harganya yang membuat penulis tertarik.

Penulis hitung – hitung kalau dulu penulis masih hold saham ADMF ini, yield dari dividennya itu bisa lebih dari 20% gileee. Kenaikan IHSG aja rata – rata setahun ga sampe 20%, kalau dari dividen aja bisa dapat 20% itu sesuatu banget.

Untuk informasi rata – rata emiten itu devidennya 1,5% sampai 2,5%. Bahkan kalau kita membeli  sahamnya sekarang saja di 9000an aja, yieldnya bisa sampai 7%, diatas bunga deposito ( lihat infografis dibawah )

saham admf, Analisa Saham ADMF, SlaveBerdasi-Analisa Saham

Tiga Alasan Dividen Play

Buat kalian yang sudah baca analisa saham beberapa emiten sebelumnya pasti sudah menangkap kegemaran penulis, mencari yield dividen yang bagus.

 Ada tiga alasan kenapa penting bagi penulis sebagai investor menginginkan dividen yield yang bagus:

  • Untuk investasi jangka panjang, dengan yield yang bagus maka menggunakan strategi buy & hold untuk saham – saham seperti ini cocok, kita dapat memperoleh hasil dari dividennya saja seperti bunga kalau menabung di bank. Kayak kisah warisan Unilever lah
  • Potensi Re-rating valuasi. Perusahaan yang meningkatkan jumlah dividennya secara nominal ataupun payout ratio ( duit yang disisihkan untuk dividen dari total laba emiten ) akan lebih dihargai oleh investor, dan menunjukkan Good Corporate Governance
  • Buffer. Kita kerap bingung kalau melihat saham jatuh, jatuuhnya bisa sampai berapa. Naah salah satu tolak ukurnya penulis adalah dividen yield. Kalau dividen yieldnya sudah menarik sekali, perusahaan blue chip ngasi yield diatas 6%.. Waah mereem daah guaa belii

Kembali ke analisa saham ADMF. Karena yieldnya yang menarik ini penulis tertarik untuk mempelajari lebih dalam industri multifinance, dan saham admf khususnya..

baca juga analisa saham lainnya :

saham KBLI

saham MTDL

saham konstruksi

Industri Multifinance relevan Dengan Perbankan

Sama halnya dengan bisnis perbankan, perusahaan multifinance core bisnisnya adalah meminjam dengan bunga yang lebih murah, kemudian dipinjamkan dengan bunga yang lebih mahal. Selisih ini kita sebut Net Interest Margin ( NIM )

Kalau dibank duit meminjamnya ini didapat terutama dari dana tabungan masyarakat. Kalau kamu nabung di bank dapat bunga deposito 5%, maka itulah cost of fund atau cost of creditnya bank. Kalau kamu nabung dengn bunga harian yang biasa saja dapat bunganya mungkin sekitar 0,5%, maka ya itulah cost of fundnya mereka.

Sementara mereka meminjamkan lagi dana untuk institusi yang butuh modal, KPR, kredit konsumsi seperti kartu kredit, ataupun kredit mikro. Contoh saja kredit korporasi saat ini sekitar 11 – 12%. Secara total rata – rata NIM Perbankan 5 – 6%

Model bisnis perusahaan multifinance sama saja dengan perbankan. Bedanya perusahaan multifinance tidak menghimpun dana dari masyarakat, mereka tidak punya akses itu

Sebagai alternatifnya mereka mencari dana dengan menerbitkan surat hutang ( obligasi ) atau meminjam dari bank. Negatifnya cost of fund mereka jadinya lebih tinggi dari perbankan, bisa sampai 11 – 12%

Kalau cost of fund mereka aja segitu, ga mungkin donk mereka nyalurin duitnya untuk kredit korporasi. Yaa bo cuan jadinya =P

Makanya fokus penyaluran kredit dari perusahaan multifinance adalah yang memberikan bunga tinggi, ya seperti kredit konsumsi.

Emitan – emiten multifinance rata – rata menyalurkan kredit untuk kendaraan bermotor baik baru ataupun bekas. Dan rata- rata yang mengajukan adalah mereka yang ditolak oleh bank. Maka secara kualitas kredit, by nature perusahaan multifinance dibawah perbankan

Masyarakat yang mengajukan kredit ini umumnya tidak mempunyai dana nganggur sama sekali, benar – benar bergantung pada penghasilan bulanan. Mereka tidak memusingkan berapa bunganya, yang penting bisa dicicil tiap bulan dari sebagian gaji mereka.

saham admf, Analisa Saham ADMF, SlaveBerdasi-Analisa Saham

Seperti kita lihat pada tabel. Kalau kita menggunakan BCA paling kreditnya 9%. Tapi kalau kredit yang kita ajukan tidak disetujui dan terpaksa mencari pinjaman dari multifinance, bunganya bisa 22%, selisihnya bisa sampai 12% lebiih tinggi.

Dengan nature bisnis seperti ini maka sudah selayaknya perbankan dihargai lebih mahal dari multifinance.

Potensi Bisnis Multifinance

Penyaluran utama pada kredit multifinance ada pada penjualan kendaraan bermotor baik roda empat ataupun roda dua. Kalau dipertimbangkan dari pertumbuhan penjualan kendaraan bermotor, prospek bisnis ini menjadi terlihat kurang menarik saat ini.

Penjualan motor nasional pada tahun 2017 kemarin saja jauh dibawah angka tertinggi ditahun 2010 dari 7,3 juta unit menjadi 5,7 juta unit . Sementara penjualan mobil nasional tahun lalu hanya naik 1,6% menjadi 1,08 juta unit.

saham admf, Analisa Saham ADMF, SlaveBerdasi-Analisa Saham

diambil dari pubex ADMF 2017 dan diolah penulis

Namun positifnya pasar dari penyaluran kredit ini tidak hanya pada kendaraan baru. Dikutip dari pubex saham ADMF, kontribusi penjualan pada kendaraan baru sekitar 57% sementara kendaraan 2nd atau bekas 40%.

Ditambah lagi dilihat – lihat dari laporan publik expose tahun lalu dan laporan keuangan 2017, tampaknya ada pasar baru yang digarap dan masih memiliki potensi untuk dikembangkan, yaitu pembiayaan syariah. Lumayanlah ada projek baru daripada nungguin penjualan motor pulih, capeek euy diboongin melulu 🤪

saham admf, Analisa Saham ADMF, SlaveBerdasi-Analisa Saham

diambil dari pubex ADMF 2017 dan diolah penulis

Selama 2017 kemarin saham multifinance yang paling menjadi perhatian adalah saham BFIN. Peningkatan saham ini tak terlepas dari kinerjanya yang tumbuh hingga 30% dikala emiten lain hanya tumbuh single digit sama dengan industri. Penetrasi kepasar baru menjadi kunci keberhasilan BFIN dari yang penulis baca – baca.

Namun penulis anggap BFIN ini sebagai outliers laah, kita rasional aja sama perkembangan industrinya gimana..

Secara garis besar dilihat dari pertumbuhan pembiayaan nasional, maka korelasinya erat dengan pertumbuhan penjualan kendaraan. Dan berbicara penjualan kendaraan nasional. Dilihat secara historikal penjualan kendaraan memiliki korelasi yang erat dengan pertumbuhan ekonomi

saham admf, Analisa Saham ADMF, SlaveBerdasi-Analisa Saham

Dengan pertumbuhan ekonomi flat di 5% dalam 3 tahun terakhir, ya penjualan kendaraan ya gini – gini aja. Memang dengan adanya penurunan suku bunga ada insentif untuk mencicil kendaraan lebih murah.

Ditambah dengan prospek ekonomi yang lebih baik, infrastruktur yang bakal jadi di 2019, maka industri otomotif dan multifinance terlihat memiliki potensi yang menarik

Prospek Saham ADMF

Setelah mengetahui perkembangan industri dari saham multifinance saat ini maka kita menjadi lebih ada gambaran untuk melakukan analisa saham admf.

Presiden Direktur Adira sendiri telah memberikan pernyataan pada awal tahun, ekspektasi pertumbuhan penjualan tetap single digit ditahun 2018 sekitar 5 – 10%. Statement yang sangat logis bila kita lihat memang pasar kendaraan nasional juga bertumbuh stagnan.

Dengan belanja modal difokuskan pada pengembangan IT dan pelayanan pelanggan yang sama – sama aja taglinenya, penulis tidak mengharapkan penjualan saham admf akan standout seperti yang dilakukan saham BFIN tahun lalu.

saham admf, Analisa Saham ADMF, SlaveBerdasi-Analisa Saham

Quality Over Quantity

Tapi jangan salah, penulis nyaman – nyaman saja dengan pertumbuhan penyaluran kredit yang sejalan dengan pertumbuhan penjualan kendaraan nasional. Terlalu agresif menyalurkan kredit justru malah meningkatkan risiko kredit macet.

Saat ini bila dibandingkan dengan kompetitor lainnya saham admf memiliki profit margin yang lebih rendah hanya di 16%, dibandingkan pesaingnya MFIN dan BFIN yang mencapai 21% dan 28%.

Dengan rasio kredit macet yang telah menyentuh peak, saham Admf masih memiliki ruang untuk menggemukan margin labanya.

Apalagi dengan suku bunga kredit yang semakin turun, Adira memiliki kesempatan mencari pendanaan yang lebih murah, dimana mereka biasanya isu obligasi 4 – 5 triliun setiap tahun, refinance yang lama dimana tenornya 3 tahun.

Pada masa ekspansi Adira di 2010 – 2013, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang lagi kenceng – kencengnya, margin profit saham admf bisa mencapai 30%, maka ga heran kalau di 2018 ini margin dapat kembali ditingkatkan.

Potensi rasio kredit macet yang semakin turun juga dapat membuat Adira memberikan dividen yang lebih besar. Apabila Adira memberikan 75% labanya sebagai dividen seperti di 2016, maka dividen tahun ini bisa 1018 perak per lembar dari harga saham 9000, dimana berarti yield hampir 12% !!!

Kalau mereka bagi dividen segini yaudaah, dadaaah cebaaaan 👋👋👋

Balik dah saham admf kehabitatnya di 11 – 12 ribu

Terakhir dengan diakuisisinya Bank Danamon oleh Mitsubishi UFJ Financial Group ( MUFJ ) Adira sebagai anak usahanya bisa mencari pendanaan yang lebih murah.

Saat ini 40% pemasukan danamon datang dari Adira. Kalau nilai akusisi Bank biasanya 2,5 – 3x harga buku, kira – kira saham admf diberapa ya ?

Kita hitung 2x deh, karena seperti disebutkan nature bisnis multifinance lebih berisiko. Dengan nilai buku saat ini 5745, maka 2x itu sama dengan 11.500

Kesimpulan analisa saham ADMF

Satu hal yang sangat lucu bagi penulis, BFIN yang penjualannya ga sampe separuhnya ADMF, saat ini nilai pasarnya lebih tinggi dari ADMF, ini jelas mispriced !!

bisa BFIN yang ketinggian, atau ADMF yang kemurahan. Namun dengan nilai buku BFIN sudah 2,8x maka jelas ini kemahalan, Bank Mandiri aja cuma 2,3x nilai buku

Tapi dengan nilai buku saham ADMF di 1,6x maka menurut penulis masih ada upside untuk kembali naik, yaaah deket – deket 2x laah

Dengan arah ekonomi yang semakin baik, penjualan kendaraan bermotor juga akan diuntungkan, ini baru awal gan 😉

Katalisnya apa ? nurut penulis momen bagi – bagi dividen selalu jadi momentum untuk saham high yield kayak saham admf begini. Perhatiin deeh tuuh RUPS nya kapaan.

Dengan melanjutkan pertumbuhan penjualan 5 – 10%, penurunan rasio kredit macet, dan dividen yang gede, saham ini dikerek naek ke 11 ribu bukan hal yang aneeeh.

Masalahnya penulis jual niih saham dulu di 6000, kalo sekarang beli lagi di 9000 gimana gitu rasaanyaa 😭😭😭

*Apabila ada pertanyaan atau mau update terbaru dari slaveberdasi contact langsung saja di twitter @slaveberdasi , facebook slaveberdasi ,dan email di slaveberdasi@gmail.com

 

3 Comments on “Analisa Saham ADMF

  1. Mantabh Om. *tepuk tangan. Kapan-kapan akiks nyontoh ya format postingannya. Hihihi.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: