Reksadana Pendapatan Tetap yang ga Tetap – Tetap Amat

Outlook Reksadana Pendapatan tetap

Ketika kita berbicara mengenai investasi maka kerap yang muncul dikepala kita adalah saham, reksadana saham, properti, atau emas. Namun jangan lupa kalau terdapat satu jenis investasi lain yang sebenarnya memberikan return cukup baik dalam beberapa tahun terakhir namun terabaikan oleh kita yaitu reksadana pendapatan tetap.

Yaa memang sih buat yang terbiasa agresif mendengar reksadana pendapatan tetap rasanya gimana gitu, ini aja penulis bikinnya perjuangan looh 😂 .

Tapi jangan salah, ada masa – masanya return reksadana pendapatan tetap lebih baik. Sebagai investor kita harus selalu terbuka dengan oportuniti 😉

Dan tentunya untuk tipikal yang lebih kalem reksadana pendapatan tetap dapat menjadi pilihan untuk diversifikasi investasi

Dalam 2 tahun terakhir terhitung awal 2016 – 2017 dapat dikatakan merupakan tahun keemasannya reksadana pendapatan tetap. Return investasi yang diberikan oleh reksadana ini jauh melampaui rata – rata historisnya dari 10% menjadi 15,8% setahun.

IHSG saja rata – rata return investasi dari 2010 hingga 2017 ( sebelum loncat ditutup tahun ) hanya sekitar 14% setahunnya.

mari kita ketahui lebih dalam mengenai reksadana pendapatan tetap, apa sih isinya ? apa yang bikin naik dan turun ? bagaimana prospek reksadana pendapatan tetap, dan apa risiko reksadana pendapatan tetap ini ?

Apa Itu Reksadana Pendapatan tetap

Sebelum kita mengetahui lebih dalam outlook dari reksadana pendapatan tetap, perlu diketahui terlebih dahulu apa itu Obligasi / Bond / Pendapatan Tetap.

Ketahui apa itu bond pada post bond itu apa dan return dari bond dan reksadana pendapatan tetap pada historikal return investasi

Jadi pada dasarnya bond itu adalah surat hutang yang diterbitkan oleh penerbit surat hutang.

Siapakah penerbitnya ?

bisa perusahaan dimana biasa disebut corporate bond, bisa pemerintah dimana biasa disebut Government Bond, atau diluar negeri bisa juga penerbitnya pemerintah daerah seperti yang banyak dilakukan China dan biasa disebut municipal bond.

Sejarah Obligasi Pemerintah Indonesia

Surat Hutang Pemerintah versi cetak tahun 1970

Dengan reksadana pada konsepnya adalah menghimpun dana masyarakat untuk diinvestasikan pada instrumen tertentu, maka pada reksadana pendapatan tetap dana tersebut diinvestasikan pada obligasi pemerintah

Kenapa sih jarang denger orang investasi langsung di obligasi kayak di saham ?

Alasan kenapa jarang investor individu yang langsung membeli obligasi adalah karena besarnya nilai minimum pembelian obligasi

Nilai pembelian Obligasi Pemerintah yang diterbitkan pada pasar perdana adalah 1 miliar. Beberapa bank besar menawarkan pembelian dengan nilai minimal 100 juta, dimana mereka menggabungkan pembelian dengan nasabah lain hingga berjumlah 1 miliar.

Kekurangannya bila membeli dengan nilai kecil seperti itu maka spread dan fee yang kita dapatkan menjadi tidak bagus, kalo maen saham kan fee jual beli sekarang cuma 0,3% atau bahkan lebih murah. Kalau fee jual beli obligasi itu minimal 1% 😅

Untuk informasi Pemerintah melakukan lelang menawarkan surat hutang baru setiap minggu dihari selasa. Perdagangan obligasi juga dilakukan dipasar sekunder, bedanya dengan saham transaksi bersifat over the counter ( OTC )

Dapat dibaca sejarah obligasi yang diulas oleh sumber eksternal disini

Reksadana Pendapatan Tetap yang Tidak Tetap – Tetap Amat

Bila kita mendengar dari judulnya reksadana pendapatan tetap maka normalnya asumsi kita keuntungan yang didapat itu stabil..

kagak masbro !! namanya boleh pendapatan tetap, tapi sebenarnya ga tetap – tetap amat..

Terdapat beberapa hal yang perlu kita perhatikan mengenai obligasi ini dan pengaruh pada fluktuasinya :

  • Surat hutang yang diterbitkan memiliki waktu jatuh tempo yang berbeda – beda. Korporasi umumnya 3 – 5 tahun. Sementara pemerintah sangat variatif dari 3 tahun ( ORI ) hingga 30 tahun.
  • Rule Of Thumb yang perlu kita ketahui, semakin lama jatuh tempo maka semakin besar bunganya sebagai imbalan atas ketidakpastian yang lebih lama.
bunga dan tenor obligasi pemerintah indonesia

semakin lama waktu jatuh tempo makin besar bunganya

  • Selain itu dengan tenor yang sama Bunga dari obligasi pemerintah lebih rendah dari korporasi karena dipandang lebih bebas risiko, secara pemerintah yang menjadi penanggungnya, kalau bokek pemerintah tinggal cetak duit aja kaan
  • Ketika surat hutang diterbitkan maka nilai awalnya adalah 100 dengan bunga yang telah ditentukan
  • Selama berjalannya waktu nilai 100 ini naik turun berdasarkan perdagangan yang terjadi dipasar sekunder
  • Obligasi A yang memberikan bunga 10% apabila dijual pada harga 90, maka pembeli mendapatkan riil bunga itu 11,1%. Ini yang biasa disebut Yield
  • Karena harga obligasi A turun dari 100 menjadi 90, maka penjualnya mengalami kerugian ( capital loss ) sebesar -10%. Inilah yang menyebabkan fluktuasi harga obligasi

contoh harga dan yield obligasi

Dengan obligasi yang bisa dipedagangkan dipasar sekunder dan memiliki waktu jatuh tempo yang berbeda – beda membuat harga dari obligasi menjadi fluktuatif, dimana semakin lama jatuh tempo maka semakin fluktuatif.

Sensitifitas Obligasi

Bila berbicara saham maka dasar utama yang menjadi penggeraknya adalah earning  ( laba ) dari perusahaan, karena memiliki saham artinya memiliki perusahaan tersebut.

Memang ada faktor seperti teknikal, macro ekonomi, fund flow, dll yang dapat mempengaruhi pergerakan saham, namun in the long run backbone dasarnya adalah earning.

Lain hal nya bila berbicara obligasi. Investor obligasi tidak peduli seberapa besar laba perusahaan / negara penerbit obligasi meningkat karena tidak membuat bunga yang didapat investor obligasi menjadi lebih besar.

Yang penting cash flow dari perusahaan itu tetap bagus, karena sebagai pemegang obligasi artinya kita sebagai pemberi hutang terhadap perusahaan / negara tersebut. Mesti pastiin donk yang ngutang bisa bayaar.

Lalu apakah artinya kita harus memperhatikan cash flownya ?

Well teorinya iya, jelas signifikan, namun terdapat beberapa hal lain yang memberi pengaruh signifikan pada pergerakan yield obligasi.

5 Faktor Yang Mempengaruhi Pergerakan Obligasi pemerintah atau reksadana pendapatan tetap

Kita kerucutkan untuk fokus berbicara obligasi pemerintah, sensitifitasnya terhadap apa sih obligasi itu ?

  1. Naik turunnya inflasi akan memberi pengaruh pada pergerakan suku bunga, dan selanjutnya mempengaruhi bunga perbankan. Apabila inflasi meningkat tinggi most likely akan membuat yield obligasi naik dimana artinya harga obligasi terkoreksi
  2. Bunga perbankan. Apabila pada saat yang bersamaan menyimpan di perbankan memberikan imbal hasil lebih menarik dari sudut pandang risk & return, maka permintaan terhadap obligasi pemerintah menjadi melemah.
  3. Absolut yield dibandingkan negara selevel. Berapa besar yield yang ditawarkan obligasi pemerintah Indonesia dibandingkan negara yang selevel Indonesia ( penulis akan bahas lebih spesifik di post lain )
  4. Kestabilan rupiah. Ketika investor asing membeli obligasi pemerintah Indonesia mereka harus mengconvert mata uangnya menjadi rupiah. Disini kestabilan rupiah menjadi hal yang dipertimbangkan investor asing tersebut
  5. Credit Default Swap ( CDS ). Ketika investor asing membeli obligasi pemerintah Indonesia, untuk mencegah risiko default mereka membeli premi asuransi yang disebut CDS. Apabila CDS atau premi ini turun artinya risiko semakin turun, dan cost untuk membeli obligasi menjadi lebih murah.

Bila berbicara fundamental saham kita berbicara mengenai earning, maka ketika berbicara obligasi pemerintah fundamentalnya adalah cash flownya pemerintah yaitu apbn. Namun membahas cash flow pemerintah tidaklah intens dibahas seperti di saham.

Sebagai gantinya kita memperhatikan 5 hal diatas sebagai faktor yang mempengaruhi sensitifitas pergerakan obligasi pemerintah

Return dan Risiko Reksadana Pendapatan Tetap

Return.. return.. berapa return investasi nya ???

Capek capek jelasin pasti ujung2nya sebagai investor yang kita ingin tahu kan berapa siih keuntungan yang bisa didapat.

Dari sini kita coba mengecek data historis Bindo ( Indonesia government bond benchmark versi bloomberg ) yang dapat mewakili return reksadana pendapatan tetap

Dalam 7 tahun terakhir rata – rata return reksadana pendapatan tetap adalah 10%, woow bangeet guys kalau mengingat bunga deposito kita yang kian pediih kian hari 😭

Dalam 2 tahun terakhir saja rata – rata returnnya 15,8%, udaah mau nyaingin saham.

return historis reksadana pendapatan tetap versi bindo

BINDO Merepresentasikan return reksadana pendapatan tetap

Tentu dengan return reksadana pendapatan tetap yang sebesar ini reksadana pendapatan tetap dapat menjadi solusi untuk diversifikasi investasi.

Namun sejalan dengan potensi return investasi nya, terdapat juga risiko reksadana pendapatan tetap.

Risiko Reksadana Pendapatan Tetap

Seperti kita ketahui diatas, return reksadana pendapatan tetap dapat berfluktuasi akibat 5 faktor yang disebutkan diatas.

Menurut penulis terdapat 2 hal utama yang perlu diperhatikan mengenai risiko reksadana pendapatan tetap :

  1. Risiko global. Apabila tren diglobal yield sedang bergerak naik dan turun, maka dapat memberikan dampak pada obligasi Indonesia. Sekitar 30% investor Obligasi pemerintah berasal dari luar negeri. Kalo investor asingnya jualan yaa koreksi daah.
  2. Risiko domestik. Utamanya kita selalu berbicara mengenai inflasi. Apabila inflasi naik maka suku bunga acuan BI akan dinaikkan, selanjutnya berentetan perbankan ikut menaikkan suku bunga dan obligasi terkoreksi.

Dengan inflasi kita dalam 2 tahun terakhir turun hanya menjadi 3% lebih dikit, no wonder return reksadana pendapatan tetap kita meroket.

Mungkingkah inflasi Indonesia lebih rendah dari 3% ? rasanya suliit, angka 3% saat ini sudah merupakan salah satu yang paling rendah dalam sejarah Indonesia. Jadi sulit bagi kita untuk berekspektasi reksadana pendapatan tetap akan melanjutkan rally.

Karena kecil kemungkinan mendapatkan return reksadana pendapatan tetap dari capital gain, yang bisa kita harapkan adalah bunga, dimana bunga obligasi pemerintah Indonesia yang 10 tahun saat ini dimaret 2018 berada di 6,7% setahun.

Prospek Reksadana Pendapatan Tetap

Dilihat dari sudut pandang global, saat ini negara – negara maju sedang dalam tren menaikkan suku bunga untuk mencegah ekonomi menjadi overheating.

Dampaknya yield masih dalam risiko naik dalam jangka waktu pendek hingga menengah, artinya reksadana pendapatan tetap memiliki risiko terkoreksi.

Sementara dari domestik hingga saat ini ekspektasi inflasi tetap rendah dilevel 3%, terlebih pemerintah telah menyatakan akan menambah subsidi supaya harga tidak naik yang dapat menyebabkan harga obligasi terkoreksi.

Tapi ingat di Asia tenggara yield obligasi kita masih sangat tinggi looh 6% lebih. Singapura, malaysia, Thailand hanya berkisar 1 – 4%. Itu artinya dalam jangka panjang prospek reksadana pendapatan tetap kita masih sangat baik.

Dengan prospek reksadana pendapatan tetap di 2018 masih sama seperti ketika penulis memperkirakan diawal tahun pada post bicara investasi 2018 maka penulis bisa bilang saat ini ekspek untung dari bunga aja deeh untuk tahun ini sekitar 6%an. Sementara return reksadana pendapatan tetap dapat berfluktuasi antara 3 – 9%.

kenapa penulis memperkirakan proyeksi return reksadana pendapatan tetap tahun ini antara 3 – 9% ?

Karena menurut analisa penulis yang dijamin subjektif, yield obligasi pemerintah akan berada di range 6 – 7% tahun ini. Dengan yield atau bunga diawal tahun 6,5% maka ditambah perubahan harga obligasi kira – kira total return reksadana pendapatan tetap ada di 3 – 9%

Not bad, but also not gonna be good soon..

Smoga sedikit menambah wangsit buat yang belom familiar dengan reksadana pendapatan tetap dan ingin mengetahui lebih dalam 😋😋

 

*Apabila ada pertanyaan atau mau update terbaru dari slaveberdasi contact langsung saja di twitter @slaveberdasi , facebook slaveberdasi ,dan email di slaveberdasi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: