Keuntungan Investasi Buat yang anti rugi

investor konservatif anti rugi

Setelah sebelumnya penulis membahas investasi yang cocok untuk investor super agresif ( SpKo ), maka kali ini penulis membahas investasi yang cocok untuk yang alergi anti rugi dimana dalam tipe investor penulis kategorikan sebagai Resilient ( ReiS ). Berapa sih potensi keuntungan investasi nya bila dioptimalkan saat ini ?

Fluktuasi IHSG / Reksadana Saham

Bila kita melihat investasi di IHSG dari tahun 2013 – 2016, waktu yang cukup panjang, sekitar 3 tahun, fakta menunjukkan IHSG tidak kemana – mana, stuck paling tinggi di level 5000an, sisanya terkoreksi, tidak heran bila banyak investor reksadana saham ditahun – tahun ini yang mengatakan investasi di saham itu rugi, saham itu judi, dan sebagainya.

Apabila dihitung dari Mei 2013 ke mei 2016 maka investor yang investasi di reksadana saham ( IHSG ) maka malah menderita kerugian -9%

fluktuasi keuntungan investasi ihsg

Sementara dalam 2 tahun setelahnya Mei 2016 hingga Feb 2018 IHSG meroket, keuntungan investasi mencapai 40% hanya dalam 1,5 tahun lebih sedikit saja. Dalam 1,5 tahun ini para pemain saham atau reksadana saham berpesta pora menikmati akumulasi keuntungan yang dinanti – nantikan sekian tahun lamanya

Dengan fluktuasi yang kita ketahui dari kondisi diatas, lesson learn apa yang bisa kita ambil ?

  • Saham fluktuatif ? benaar
  • Saham bisa bikin rugi ? benaar
  • Saham bikin untung ? benaar juga !

Looh jadinya gimana ?? 🤪🤪🤪

Apabila kita perhatikan dalam scope yang lebih luas, dalam 10 tahun dan 20 tahun misalnya. Rata – rata keuntungan disaham antara 15 – 17% setahunnya, keuntungan yang cukup baik, jauh melampaui yang didapat daripada dari keuntungan investasi dideposito

Dalam Big picturenya investasi jangka panjang disaham itu menguntungkan.

historikal keuntungan investasi iHSG

Pada dasarnya sepanjang kinerja perusahaan di IHSG meningkat maka harga sahamnya meningkat. Namun karena saham ini bisa diperjualbelikan oleh orang banyak, membuat harganya dapat berfluktuasi mengikuti tren, bisa menjadi lebih mahal dari valuasi seharusnya, bisa juga lebih murah.

*dapat dibaca penjelasannya pada historikal return investasi

Kita tidak perlu memusingkan ada gosip apa hari ini di saham atau IHSG. Tidak perlu ikut terombang ambing mengikuti fluktuasi jangka pendek IHSG. Yang kita tahu secara jangka panjang IHSG itu menguntungkan, itu saja.

Untuk itu selalu dianjurkan berinvestasi disaham harus memiliki time horizon lebih dari 5 tahun. Ya tujuannya untuk menghindari risiko fluktuasi seperti ini.

Pilihan Yang Semakin Terbatas Untuk yang Konservatif

Satu hal sudah kita ketahui dari fakta diatas, secara jangka panjang keuntungan investasi di IHSG cukup baik. Namun bila kita berinvestasi dengan horizon 1-3 tahun, bisa saja kita berinvestasi diwaktu yang salah, dan berada dalam posisi merugi.

Lalu untuk kita yang konservatif, yang enggan dengan fluktuasi, biasanya kita investasi dideposito

Pertanyaanya bagaimana tren bunga deposito dalam beberapa tahun terakhir ?

Dari suku bunga acuan kita lihat tren yang terus turun, dari yang dulunya di 8%, sekarang ini sudah turun tinggal setengahnya.

Saat ini suku bunga acuan 4,25%, berarti bunga deposito mentok – mentok berdasarkan aturan Bank Indonesia 1,5% diatasnya suku bunga acuan ( reverse repo ) yaitu 5,75%

suku bunga acuan

Jangan lupa,  bunga deposito gross itu looh !!

Pajak dari bunga deposito itu 20%, jadi kalau bunga deposito 5,75%, setelah dipotong pajak jadinya nett 4,6% !!

Weeew 4,6% 😭😭

Memang kalau bandingkan inflasi 2 tahun terakhir 3,5% , masih untung 1% secara riil

Tapi kalau kita lihat inflasi 10 tahun terakhir di 6%, asset kita kemakan inflasi

Kalau kita liat biaya pendidikan anak yang rata – rata inflasinya 2x inflasi nasional, asset kita juga tergerus inflasi lebih besar lagi

Pilihan lain daripada deposito, banyak nasabah konservatif yang coba berinvestasi di ORI ( obligasi pemerintah retail ). Namun itupun terakhir bunganya 5,85%. Dipotong pajak 15% nett nya jadi 5%

Dengan niat pemerintah membuat ekonomi Indonesia yang semakin kompetitif, maka solusi yang diusahakan saat ini adalah terus menurunkan suku bunga, supaya pengusaha – pengusaha Indonesia bisa mendapatkan modal pinjaman yang lebih murah.

Namun sebagai imbasnya, nasabah – nasabah yang konservatif akan merasa dirugikan, investasi dideposito semakin tidak berarti, semakin lama bunganya semakin kecil

Terbuka Pada Peluang Investasi Lain

Karena semakin kecilnya bunga deposito yang didapat tidak heran nasabah – nasabah konservatif yang melirik investasi baru yang menjanjikan return yang lebih baik.

Sayangnya karena iming – iming bunga tetap yang lebih tinggi, tidak ada fluktuasi, banyak nasabah yang terjerumus investasi bodong.

Contoh saja beberapa tahun lalu kasus emas GTI yang menjanjikan bunga 2% sebulan. Pada akhirnya ketika kasus itu meletus ada duit nasabah sebanyak triliunan yang dibawa kabur, lenyap tak berbekas.

Memang kecilnya bunga yang didapat membuat kita nasabah konservatif semakin bete. Namun jangan sampai karena frustasi dengan bunga yang kecil, kita jadi tergiur pada investasi dengan bunga tinggi yang tidak masuk akal

Ingat dalam investasi aturan no #1 jangan sampai kehilangan uang !!

Dengan arah kebijakan ekonomi kita adalah fokus mengejar pertumbuhan, maka suka tidak suka, saham akan menjadi primadona terlepas dari fluktuasinya yang seperti roller coaster.

Keuntungan Investasi Pada Portofolio Investasi

Sebagai solusinya untuk nasabah yang konservatif dapat mensisihkan sedikit dari investasinya ke reksadana saham

Sedikit saja looh.. bukan banyak..

Penulis paham sebagai nasabah konservatif kita paling enggan melihat investasi kita rugi

Sebagai solusinya taruhlah 15 – 20% dana investasi kita dalam reksadana saham..

Kenapa 15 – 20% ?

Dengan alokasi sebesar itu, seburuk – buruknya kita investasi disaham ( apes gitu masuk diwaktu yang salah ) secara total investasi kita masih untung dalam setahun

Jadi 20% investasi kita disaham misal rugi 15%, sementara 80% sisanya dideposito. Secara total portfolio dalam 1 tahun kita masih untung. Dapat kita lihat dari contoh tabel dibawah

Jadi setidaknya kita bisa lega, dalam kondisi terburukpun, investasi kita tetap untung

skenario terburuk investor ReiS

Perbandingan Keuntungan Investasi

Dengan 20% saja alokasi disaham, seburuk – buruknya total investasi kita tetap untung

Nah bagaimana dengan asumsi baiknya ?

Dengan  rata – rata return saham dalam 10 – 20 tahun terakhir adalah 16% pertahun. Maka bila kita blended dengan 20% alokasi ke saham 80% deposito maka rata – rata keuntungan investasi yang kita dapatkan setahun adalah 7,2% nett

Dengan asumsi bunga deposito 5% nett ( sebenernya lebiih kecil looh !! ) maka portofolio investasi dengan 20% kita alokasikan kesaham memberikan keuntungan investasi 2,2% lebih tinggi menjadi 7,2%

Apabila kita melihat secara jangka pendek memang terlihat kecil

Namun coba kita bandingkan investasi kita dalam 10 tahun kedepan bila hanya dengan deposito dibandingkan 20% dialokasikan kesaham ?

Hasilnya dapat kita lihat, memberikan imbal hasil 37,5% lebih besar

proyeksi keuntungan investasi ReiS

Proyeksi keuntungan Investasi

Saran Penulis Untuk Investor yang tidak menyukai fluktuasi

Di Amerika Serikat sendiri dalam membuat perencanaan pensiun Asumsi hasil investasi saat memasuki masa pensiun adalah 5% pertahunnya. Jadi kalau kita cuma investasi yang memberikan keuntungan 5% berarti kita nenek2 kakek2 donk hehehe.

Apalagi kita tinggal dinegara berkembang maka ekspektasi keuntungan investasi harus lebih tinggi karena inflasi yang lebih tinggi.

Apabila kita masih muda dengan masa pensiun diatas 10 tahun ( saya yakin 99,99% pembaca disini ) maka jangan lagi terus – terusan terpaku pada deposito, yang bukan tidak mungkin bunga bersihnya dalam beberapa tahun kedepan menjadi hanya 3 koma..

3 Koma 😱😱

Boleh saja meningkatkan alokasi investasi kita disaham dengan time frame yang panjang. Tooh seperti kita ketahui secara jangka panjang investasi disaham memberikan return yang menarik.

Namun setidaknya apabila kita enggan melihat portofolio investasi kita berfluktuasi, mensisihkan 20% dari total investasi kita di reksadana saham menjadi solusi yang bijak menghadapi tren terus turunnya bunga deposito.

Alternatifnya lainnya 20% juga dapat disisihkan ke peer 2 peer lending ( P2P ) yang penulis telah bahas di historikal return investasi

Nurut penulis 11 – 12 lah seperti saham atau IHSG.. bedanya kalau investasi reksadana saham risiko fluktuasinya tinggi, di P2P risiko gagal bayar ( default ) tinggi, namun tidak ada fluktuasi.

Untuk pembahasan P2P penulis akan bahas dipost lainnya

Apabila untuk investor agresif penulis menyarankan investasi yang highly concentrated, maka untuk investor yang anti rugi maka selalu fokus pada diversifikasi investasi

Apabila ada pertanyaan atau mau update terbaru dari slaveberdasi dapat melalui  twitter @slaveberdasi , facebook slaveberdasi ,dan email di slaveberdasi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: