5 Faktor Penyebab Koreksi Indeks Harga Saham Gabungan / IHSG

Koreksi IHSG 2018

Dalam berinvestasi pada asset class seperti IHSG maka fluktuasi akan selalu menjadi sahabat bagi para investor. Seperti saat ini IHSG terkoreksi dalam, dan yang bikin kita ngeri, koreksi jauh lebih dalam dari negara tetangga.

Dalam menghadapi fluktuasi – fluktuasi besar seperti ini terdapat 5 faktor yang penulis selalu perhatikan. Dalam kondisi sepanik apapun, penulis mencoba berpegang pada  dasar – dasar yang penulis yakini sebagai faktor terbesar dalam mempengaruhi fluktuasi, terutama koreksi IHSG sebelum mengambil keputusan

Menarilah Ketika Musik Masih Dimainkan

“When the music stops, in terms of liquidity, things will be complicated. But as long as the music is playing, you’ve got to get up and dance. We’re still dancing,” – Chuck Prince

Ucapan itu dipopulerkan oleh ex CEO Citigroup Chuck Prince, menyikapi panasnya mortgage lending AS di 2007. Ketika bola berputar begitu kencang, investasi menghasilkan begitu banyak uang, tetaplah berada didalamnya, tetaplah menari selama musik masih berputar.

Hal yang relevan menurut penulis juga berlaku dalam menyikapi IHSG seperti saat ini.

keep-calm-pictures-4

Setelah dininakbobokan dengan 2017 yang indah terbang ke awan. Para investor IHSG dikembalikan ke bumi dengan koreksi sebesar -11% dari tertingginya diakhir April ini.

Koreksi ini sukses membuat panik para investor, dan menjadi kembali terngiang – ngiang mengenai koreksi 10 tahunan.. are they exist actually ??

Mungkin ketika IHSG terkoreksi seperti ini banyak yang berpikir keluar sebelum karam. Dulu ketika penulis masih bekerja sebagai broker saham juga berpikir demikian, penulis berusaha times the market, keluar dulu sebelum IHSG koreksi.

Namun cara berpikir itu berubah sejak penulis bekerja dibuyside.

Boss penulis di buyside mengajari don’t you dare to jump !! seperti kata – kata Chuck itu tadi, selama musik masih berputar, tetaplah menari !! .. Sebelum IHSG koreksi dalam di Maret – April ini, selama Des 2017 – Feb 2018 musik IHSG diputar begitu kencang, dan bila kita lompat terlalu cepat, kita hilang barang, we missed the opportunity. Buat para pemain saham, terutama mid – small cap, pasti berpesta pora pada periode itu, yaa karena memang begitu polanya,  enjoy it while it last .

Mungkin saja penulis lompat bila penulis meyakini buble yang terlalu parah, namun penulis tidak melihat hal yang demikian di 2018 ini

Tantangan lainnya bila kita berani keluar dari IHSG, sulit menentukan kapan masuk lagi, dari hampir 100 klien yang penulis kelola ketika menjadi broker saham, most of them miss timing, hal yang sama juga terjadi ketika penulis tanyakan pada teman – teman mengenai porto nasabah mereka..

Ngeri Liat IHSG Nyungsep gini

IHSG chart harian

Siapa yang ga ngeri kalo liat chart begini ?

Memang dengan penurunan yang luar biasa hanya dalam 5 hari, penulis sebagai investorpun dibikin ciut. Tapi sebagai investor yang mau untung dipasar modal, haramnya namanya terbawa perasaan. Kita mesti perhatikan lagi dengan kepala sehat, tindakan apa yang kita perlukan

Kalau kita lihat dengan horizon yang lebih panjang, dari chart harian menjadi bulanan, indeks tidaklah tampak semengerikan itu.

IHSG Chart bulanan

Indeks lebih terlihat mengalami koreksi seperti 2011, 2013, atau 2015, bukan krisis 97/98 dan 2008

Koreksi selalu menjadi bagian dari market rally. Kalau tidak ada fluktuasi bukan saham namanya, tapi tabungan =P

Penulis pada awal tahun percaya IHSG akan melanjutkan rally, namun penulis juga mengatakan tetap memiliki cash jaga – jaga kalo shit happen.

Berdasarkan pengalaman penulis setelah belasan tahun berinvestasi “ akan selalu ada alasan untuk menjatuhkan market “

Makanya penulis haram banget yang namanya pakai margin pas indeks lagi puncak – puncaknya maren. While music still play, join the dance with running shoes 😆

5 Faktor Yang Memberi Dampak Besar Pada Koreksi IHSG

Dari apa yang penulis pahami berdasarkan pengalaman yang penulis dapatkan dan sumber – sumber literatur yang logis, terdapat 5 faktor utama yang perlu kita perhatikan ketika mengantisipasi koreksi IHSG :

  • Siklus Ekonomi. Kita sering mendengar istilah buble burst. Buble ketika ekonomi lagi panas – panasnya, lagi dipuncak growth yang merupakan siklus akhir, sementara burst ketika buble itu meletus terkoreksi kembali lagi ke siklus awal. Buble Burst ekonomi ini memiliki korelasi yang besar dengan IHSG, ketika buble meletus, ya IHSG dijamin nyungseep.

Salah satu sinyal ketika berada dibuble teritory adalah besarnya leverage ( hutang ) dan growth ( pertumbuhan ). Namun saat ini penulis tidak melihat besarnya hutang diperekonomian kita.

Yang ada sekarang pemerintah kerjanya nyindir bank supaya buka kucuran kredit, tapi dari sisi pengusaha sendiri reluctant untuk ekspansi karena banyaknya kebijakan yang tidak pasti yang bikin growthnya stuck, keynesian live only in the depress market ( ini opini penuliis yaa, jangan sembarang quote 😋 )

korelasi pertumbuhan ekonomi dan pinjaman

setelah menyentuh peak, pinjaman turun drastis, begitu juga ekonomi

  • Earning atau laba bersih emiten. Backbone dari IHSG adalah naik turunnya laba. Jadi dengan laba masih meningkat maka kurang lebih IHSG akan bergerak sejalan. Tentunya kinerja emiten atau saham tidak akan jauh – jauh dari kondisi ekonomi negara tersebut.
  • Ketika kita berbicara saham maka kita membeli ekspektasi, kita akan membeli saham perusahaan pada harga mahal, dan bisa lebih mahal.

Apa yang membuat kita menghargai saham lebih mahal karena kita memiliki ekspektasi kinerja perusahaan yang lebih bagus dimasa depan. Lalu apa yang terjadi ketika realita jauh dibawah ekspektasi ? koreksi..

  • Perception atau persepsi. Penulis telah mengatakan ini ketika membuat analisa investasi 2018. Ada kalanya pasar menilai IHSG dihargai mahal, ada juga momennya dihargai murah.

Secara relatif dibandingkan negara Asean lainnya IHSG dihargai lebih mahal ( P / E atau rasio laba ). Dilihat secara historikal dalam 15 tahun terakhirpun P/E IHSG saat ini dihargai lebih mahal, di 20x trailing p/e sementara historikal 18x.

Persepsi itu terbentuk karena pasar percaya pada ekspektasi pertumbuhan IHSG. Namun ketika ekspektasi tersebut tidak terpenuhi maka sulit membuat justifikasi IHSG layak dihargai mahal.

  • Awal koreksi besar yang terjadi pada 1997 dan 2008 memang dimulai dari faktor eksternal yang membuat rupiah kita terguncang. Namun selain dari faktor eksternal, ekonomi kita sedang lari pada periode tersebut, dan tahun 1997 larinya kenceng banget, makanya jatuhnya yang paling sakit.

Dari kelima faktor yang penulis sebutkan diatas, faktor yang pertama dan kelima merupakan faktor yang paling krusial,  ambruknya ekonomi bukan hanya membuat IHSG koreksi, tapi kolaps !!

Positifnya kondisi ekonomi kita masi jauh dari 2008 ( masih merangkak ), apalagi 97 / 98

Sementara faktor kelima, faktor eksternal kerap menjadi faktor yang menyebabkan goncangan pada ekonomi kita, terutama pada pelemahan rupiah.

IHSG Koreksi, What’s Next ??

Ketika IHSG dihajar koreksi dalam 5 hari berturut turut penulis sempat ikut bingung, haruskah penulis balik badan untuk cut loss posisi saham 😱😱😱

Namun sebelum penulis mengambil perubahan besar, penulis pastikan lagi 5 faktor diatas, faktor apa yang menjadi penyebab koreksinya IHSG

  • Pelemahan rupiah yang sempat menyentuh 14 ribu jelas merupakan faktor eksternal dan salah satu katalis utama yang membuat investor panik. Namun kalau penulis ingat – ingat, rupiah sudah terdepresiasi signifikan sejak 2013 dimana isu tapering AS pertama kali dibahas.

Saat ini rupiah sudah undervalue berdasarkan Real Effective Exchange Rate, dan bila rupiah mengalami fluktuasi Bank Indonesia mempunyai banyak peluru untuk menstabilkan,

  1. cadangan devisa yang lebih besar
  2. Menaikkan suku bunga acuan, dimana sekarang ini sangat rendah
  3. Neraca defisit penyebab rupiah anjlok tidak seburuk di 2013

Dengan kondisi demikian penulis memandang Indonesia jauh lebih solid menghadapi risiko pelemahan rupiah. Dan situasi tapering ini bukanlah suatu isu baru, uda bosen dengernya cui, bukan lagi unknown teritory yang membuat investor play safe.

  • Sementara faktor kedua adalah ekspektasi. Awalnya banyak pengamat memiliki ekspektasi yang besar pada IHSG di 2018, setelah ditahun lalu tenggelam dengan kinerja emiten negara emerging lain yang super – super.

Tapi nyatanya laba emiten yang rilis masih gitu – gitu aja. Penjualan Unilever yang malah turun -2% YoY semakin menjustifikasi konsumsi publik yang masih lesu.

Namun tadinya penulis kira earning IHSG turun. Ternyata tidak, masih naik 6% YoY, memang meleset dari ekspektasi tumbuh 12% yang penulis sebutkan diawal tahun, namun tetaplah bertumbuh.

Setelah mengevaluasi lagi kondisi IHSG, is it that bad ? menurut penulis tidak, kita masih bertumbuh kok. Yes kita missed expectation, tapi itu bukan akhir dari dunia.

Bakal kayak 98 ? jelas kagaaak

Kalo 2008 ?? No no no

Mungkin 2015 ??? emmm.. also no..

Penulis Hold Position

Pandangan penulis koreksi saat ini hanya koreksi sehat seperti 2011 dan 2013. Mungkin masih ada downside namun tidak butuh waktu lama untuk kembali rebound.

Dengan kondisi demikian penulis memutuskan untuk mengikuti arus saja, tidak perlu untuk cut loss. Kalau masih ada turunan dikit lagi, yaa kita cairkan duit P2P kita hahahaha.

Buat yang cut loss jangan lupa buy back. Karena sepanjang pengamatan penulis penyebab investor buntung adalah cut loss ditengah tengah, dan buyback diatas.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: