Bicara Investasi 2nd half 2018

belajar dari kesalahan investasi

Investor terhebat dalam sejarah bukanlah investor yang tidak pernah salah. Mereka melakukan kesalahan, bahkan banyak. Namun mereka belajar dari kesalahan – kesalahan tersebut, dan bagaimana mereka merespon akan keadaan buruk diluar ekspektasi tersebut yang membedakan mereka dengan investor biasa.

Sudah dari akhir tahun lalu sesungguhnya telah diwanti – wanti bahwa market ninak bobok 2017 tidak akan lagi terulang di 2018. Apabila di 2017 beli asset investasi apapun, hasilnya akan menjadi emas, maka di 2018, para analis memprediksi akan ada lebih banyak fluktuasi dipasar.. Dan sekarang waktu membuktikan itu benaar !!!

Prospek Saham

Bila pada awal tahun penulis menjagokan ekuitas akan kembali melanjutkan rally nya, karena story pemulihan ekonomi masih berlanjut, nyatanya pasar tidak menunjukkan demikian.

Dilihat dari fundamental pemulihan ekonomi memang tetap berlanjut, namun sayangnya tidak sebaik dari ekspektasi awal. Masih lemahnya output yang rilis ini membuat IHSG mendapat punishment aksi jual

Terhitung dari awal tahun hingga 25 Juni 2018 IHSG telah mengalami koreksi sebesar -7,5%. Angka ini sebenarnya bukan angka yang luar biasa. Penulis mencatat IHSG apapun alasanya,  kerap mengalami koreksi sehat setiap 2 – 3 tahun sekali sekitar 15 – 20% dari titik tertinggi. ( kira2 IHSG di 5300 – 5600 lah )

Jadi masih bisa koreksi lagi donk ?

investasi, Bicara Investasi 2nd half 2018, SlaveBerdasi-Analisa Saham

Kalau ini penulis tidak tahu, tidak pernah ada yang tahu, yang sok tahu banyak !

Karena bila kita lihat dari fundamentalnya Indonesia masih tetap bertumbuh, laba IHSG naik 9% YoY. Ekonomi Indonesia juga tumbuh 5,06%, tetap bertumbuh !

Hanya memang faktor eksternal saat ini berperan besar pada kinerja indeks, terutama negara berkembang seperti Indonesia.

Bila kita perhatikan negara – negara berkembang lain juga telah mengalami koreksi  5 – 15% YTD

Penguatan mata uang US Dollar membuat rupiah tertekan, dan ini membuat para investor lebih memilih mengamankan asset daripada diinvestasikan pada asset berisiko seperti saham

Tingginya tensi negosiasi ulang hubungan dagang oleh AS turut membuat investor cemas.

China saat ini memiliki pengaruh yang sangat kuat pada negara – negara sekitarnya. Masalah yang terjadi pada China, negara Asia lainnya termasuk Indonesia juga ikut terkena dampaknya

Salah satu tujuan ekspor terbesar batubara dan minyak kelapa sawit Indonesia adalah ke China

Sementara salah satu Foreign Direct Investment terbesar kita juga datang dari negara tirai bambu tersebut.

Penulis sendiri yang tadinya berpesta pora akan keuntungan yang diraih pada awal – awal tahun, saat ini hanya bisa gigit jari saja karena keuntungan tersebut menguap

Lalu haruskah kita menghindari investasi di saham ?

Menurut penulis mungkin saja koreksi IHSG kembali terjadi, mengingat tengah tahun seperti ini minim katalis positif

Namun yang perlu kita ingat, banyak saham yang sudah diobral sekarang !! IHSG juga memiliki valuasi yang lebih menarik dari sebelumnya. Justru momen – momen koreksi seperti ini kesempatan untuk kita borong lebih banyak

Tooh secara fundamental kita ini masih grow. Lari aja belum, masih merangkak, jadi jauhlah yang namanya economic cycle 10 tahunan ituuu.

Risiko yang perlu kita waspadai lebih pada arus dana yang membuat rupiah kita dalam tekanan. Idealnya sih manageable, ini bukan pertama kali Indonesia mengalami arus outflow kok. Story tapering atau kenaikan suku bunga itu uda dibahas dari 5 taon lalu, basii

Lagipula kenaikan suku bunga AS bukan berarti kita harus negatif kok. Sentimen investor aja, nanti juga balik lagi, yakin penulis soal ini

Sementara data domestik secara riil juga mulai sudah berita positifnya. Retail sales, ato belanja ritel sudah mulai menunjukkan tren peningkatan. Belanja lebaran tahun sudah lebih tinggi dari tahun lalu dimana ini merupakan sinyal yang positif.

Obligasi Indonesia

Untuk investasi Obligasi dari awal tahun sebenarnya penulis memang sudah berhati – hati, cenderung mengarahkan pada kondisi netral menyikapi kondisi global yang mengarah pada kenaikan suku bunga.

Walaupun begitu, penulis tidak menyangka obligasi 10 tahun Indonesia bisa terkoreksi hingga yield kembali menjadi 7,9%

Lesson learn dari IHSG dan Obligasi ini begitu jelas, always expect the unexpected..

Kembali soal obligasi, apakah yield akan kembali menjadi lebih buruk lagi ??

Menurut penulis yield sekitar 8% merupakan titik aman untuk masuk. Koreksi memang masih bisa terjadi. Begitu juga inflasi kita yang begitu rendah, bisa saja naik.. Untuk jangka pendek dan menengah tidak pasti, untuk investasi jangka panjang ? menarik sekalii !!

Namun dua alasan yang membuat penulis yakin 8% merupakan angka aman

  • Inflasi normal Indonesia sebelumnya berkisaran 5 – 6%. Dengan inflasi dikisaran itu maka yield wajar obligasi Indonesia 7,5 – 8,5% ( plus 200 – 300 basis dari inflasi )
  • Ketika AS menaikkan suku bunga secara agresif hingga 4% di 2004 – 2007, yield obligasi India hanya berkisar 8%. Dengan kondisi Indonesia yang sudah lebih baik dari India dimasa itu ( Investment Grade Rating + low Inflation ) maka 8% merupakan titik aman, dan angka yang menarik untuk investor global

Untuk Investasi jangka panjang, sudah bolehlah para investor mempersiapkan diri untuk mengambil posisi Besar dilevel seperti sekarang

Yang gemar mengambil ORI atau obligasi Retail, bisa borong yang keluaran taon ini bisa dilevel 7%an dengan catatan yield masih seperti sekarang di 7,9%

Secara Outlook ekonomi Indonesia akan semakin efisien dimana bisa kita translasikan menjadi inflasi yang lebih rendah. Maka level yield tinggi seperti ini tidak akan sering – sering terjadi.

Koreksi ini justru menjadi momentum investasi untuk mengambil posisi besar di Obligasi

Prospek Property

Dinaikkannya suku bunga acuan hinga 100 basis atau 1% jelas merupakan pukulan telak untuk bisnis property. Ketika diharapkan prospek property kembali cerah di 2018 ini, dinaikkannya beban pinjaman KPR jelas sentimen negatif yang dapat membuat pemulihan bisnis properti tersendat

Namun berita positifnya Bank Indonesia melakukan relaksasi Loan to Value ( LTV ) untuk pembelian property. Kalau dahulu untuk rumah pertama LTV 90% dimana artinya harus nyetor DP 10%, sekarang untuk pembelian rumah pertama DP 0 rupiah

Kebijakan ini membantu untuk masyarakat muda dengan asset likuid pas – pasan termasuk penulis =P

Dari segi penjualan sendiri selama semester 1 tahun ini penjualan rumah baru menunjukkan data yang cukup mixed. Developer besar seperti Intiland, Bumi Serpong, Pakuwon menunjukkan hasil yang on track, sementara summarecon masih mengecewakan

Data BI juga menunjukkan peningkatan harga rumah sekitar 3,5% pada semester 1 tahun ini.

investasi, Bicara Investasi 2nd half 2018, SlaveBerdasi-Analisa Saham

Ditambah dengan DP 0 rupiah saat ini, maka prospek property untuk kelas bawah dan menengah memiliki potensi meningkat

Yaa kita yang kantong pas – pasan kan lebih pusink sama DP rumahnya yang gede dibandingin bunga KPR nya..

Summary

Apabila horizon investasi kita hingga tutup tahun 2018, penulis lebih optimis akan rebound pada IHSG daripada obligasi, namun bila horizon kita investasi jangka panjang, maka keduanya memiliki outlook yang sangat menarik

Untuk property data menunjukkan pemulihan itu memang ada, pre sales sudah lebih baik.

Memang kenaikan suku bunga acuan menjadi hambatan untuk investor property yang memiliki power menggoreng harga.

Namun untuk 1st time buyers, DP 0% merupakan berita baik, dan dapat menjadi booster untuk penjualan kelas bawah dan menengah.

Pemulihan property menurut penulis akan tetap berlanjut, namun mild growth, sepanjang para investor property ga bisa gerak, tukang gorengnya tidur, yaa eufora property juga belum akan kembali.

Yang tetap menjadi pemenangnya disemester 1 disini adalah investasi di Peer 2 Peer lending. Bisa dapat bunga belasan % setahun, dan rasio gagal bayar masih rendah ( 1,5% di 2017 )

Oleh karena itulah penulis selalu memandang perlu memiliki dana darurat di P2P. Bunga nya menarik belasan persen, dan investasi di asset saham dan obligasi kerap memberikan kejutan yang diluar ekspektasi kita.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: