Equity

Belajar Investasi Seperti Belajar Berenang, Ini yang Harus Kamu Pahami!

Berdasarkan data KSEI per 30 September 2021, jumlah investor pasar modal Indonesia telah mencapai lebih dari 6.287.350 SID, termasuk di dalamnya adalah 2,9 juta SID saham.  Apakah kamu termasuk salah satunya? Kalau ya, selamat! Tapi, kalau kamu adalah salah satu orang yang sedang belajar investasi saham dan belum berani mencoba berinvestasi secara langsung, itu juga wajar kok

Faktanya, saat ingin mulai berinvestasi, memang ada baiknya kita mengenali lebih dulu tentang profil risiko dan tujuan keuangan kita serta mulai mempelajari instrumen investasi yang akan kita pilih. Tujuannya, agar kita dapat memilih investasi yang sesuai dan menjadi lebih siap dalam menghadapi risiko yang ada.

Tetapi, sering kali kita menjadi terlalu asyik belajar hingga akhirnya enggan mulai berinvestasi. Tarsok, tarsok melulu. Padahal, tujuan keuangan tidak dapat tercapai hanya dengan menguasai teori berinvestasi doang.

Nostalgia: Beda Investasi Saham Dulu dan Sekarang

Seperti Belajar Berenang

Belajar investasi itu ibarat berenang. Setelah belajar teori renang, agar kita benar-benar bisa berenang, ya kita perlu mulai turun ke kolam dan mempraktikkan teori yang sudah dipelajari sebelumnya. Nggak perlu langsung mempraktikkan semuanya dan nggak harus juga langsung menjadi mahir, tapi kita bisa mulai dari cek kedalaman kolam dan perlengkapan keamanan kita sebelum akhirnya benar-benar turun ke kolam.

Dalam berinvestasi saham, kita juga bisa melakukan hal yang sama. Kita tidak perlu menunggu untuk memiliki modal puluhan juta atau menjadi mahir lebih dulu untuk memulai. Tapi, kita juga enggak perlu untuk nyebur tanpa tahu risikonya.

See the point kan?

Lalu, apa saja yang perlu kita pahami sebelum mulai berinvestasi saham?

Sulit Membangun Dana Pensiun? Mungkin Ini Penyebabnya!

Pahami Ini Saat Belajar Investasi

1. Cara Kerja Perusahaan dan Saham Itu Sendiri

Saham adalah bukti kepemilikan sebuah perusahaan. Kalau kamu memiliki saham, walau hanya satu lot, kamu sudah menjadi bagian kecil dari pemilik perusahaan.

Melalui saham yang kamu miliki, kamu dapat memperoleh keuntungan dari capital gain (kenaikan harga saham) dan dividen (pembagian laba perusahaan berdasarkan porsi kepemilikan saham). Dari sisi perusahaan, mereka dapat melakukan ekspansi bisnis dari modal para investor.

Ilustrasinya begini, kamu suka memasak chinese food dan berencana untuk membuka restoran chinese food. Setelah dihitung-hitung, ternyata untuk membuka restoran chinese food seperti yang kamu mau memerlukan modal Rp100 juta, sedangkan kamu hanya memiliki Rp50 juta. Kemudian, kamu mengajak teman-temanmu, si A, B, dan C untuk menanamkan modalnya pada bisnis chinese food yang akan kamu bangun. Untuk setiap Rp1 juta modal yang ditanamkan, para investor akan mendapatkan satu lot saham chinese food yang kamu bangun.

Sebagai imbal hasilnya, mereka akan mendapatkan surat bukti penanaman modal (saham) dan menerima keuntungan sesuai dengan jumlah modal yang diberikan (dividen), jika restoran chinese food yang kamu bangun berhasil menghasilkan keuntungan.  A, B, dan C pun sepakat untuk menanamkan modalnya kepadamu. A memberikan modal sebanyak Rp30 juta, sedangkan B dan C memberikan Rp10 juta.

Satu tahun kemudian, restoran chinese food kamu memperoleh keuntungan sebesar Rp100 juta. Lalu, keuntungan Rp50 jutanya ditahan untuk mengembangkan restoran chinese food kamu dan sisa Rp50 jutanya, kamu bagikan kepada A, B, dan C sesuai dengan porsi modal yang mereka tanamkan. Jadi, A memperoleh Rp15 juta (30%), B dan C masing-masing Rp5 juta, dan kamu memperoleh Rp25 juta sebagai bagian dari pemilik bisnis sekaligus pemegang saham. Ini yang disebut sebagai dividen.

Selanjutnya, ada yang namanya capital gain atau kenaikan harga saham. Hal ini terjadi ketika saham terjual dengan harga yang lebih tinggi dari harga yang kita beli. Jadi, misalnya C membutuhkan uang segera sehingga ia memutuskan untuk menjual sahamnya ke temannya yang lain. Namun, karena C melihat adanya potensi perkembangan restoran chinese food kamu, C menjual sahamnya dengan harga yang Rp6 juta. Dengan demikian, C telah memperoleh keuntungan berupa dividen sebesar Rp5 juta dan capital gain sebesar Rp1 juta.

Prinsip Compound Interest untuk Membangun Aset

2. Profil Risiko dan Risiko Investasi

Seperti saat mulai berenang, kita perlu mengetahui kedalaman kolam dan tingkat keberanian kita sebelum turun ke kolam. Dalam berinvestasi juga sama, profil risiko adalah tingkat toleransi investor (tingkat keberanian) terhadap risiko investasi (kedalaman kolam).

Ada 3 jenis profil risiko, yaitu:

Konservatif

Orang dengan profil risiko konservatif cenderung memiliki toleransi yang lebih rendah terhadap risiko investasi, sehingga mereka lebih nyaman untuk berinvestasi di instrumen yang lebih stabil. Namun, tentunya instrumen investasi yang lebih stabil juga menghasilkan imbal hasil yang lebih rendah dibandingkan dengan instrumen investasi dengan tingkat risiko yang lebih tinggi.

Moderat

Sesuai dengan namanya, orang dengan profil risiko moderat memiliki tingkat toleransi menengah terhadap risiko investasi. Biasanya, orang-orang golongan moderat sudah cukup mengenali investasi pilihannya sehingga lebih berani untuk mengambil risiko yang lebih tinggi.

Agresif

Kamu masih bisa tidur nyenyak saat nilai portofoliomu turun? Atau bahkan kamu justru berani membeli saham di saat harganya sedang jatuh? Bisa jadi, profil risiko kamu adalah agresif, yaitu tipe investor yang memiliki toleransi tinggi terhadap risiko investasi.

Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang memiliki profil risiko tertentu, seperti pengetahuan dan pengalaman berinvestasi, usia, pendapatan, jumlah tanggungan, dan lain-lain. Profil risiko setiap orang juga dapat berubah seiring berubahnya faktor-faktor yang disebutkan di atas. Sehingga, ada baiknya kamu mengikuti tes profil risiko yang bisa kamu temukan di Google secara gratis sebelum mulai berinvestasi.

Selain itu, profil risiko tertentu juga tidak berarti bahwa kamu hanya bisa berinvestasi pada satu atau dua jenis instrumen investasi saja. Misalnya kamu memiliki profil risiko konservatif, dengan demikian bukan berarti kamu tidak dapat berinvestasi saham dan hanya dapat berinvestasi di deposito saja. Kamu dapat tetap berinvestasi saham walau profil risikomu konservatif, hanya saja jumlahnya mungkin tidak akan sebanyak orang dengan profil risiko agresif.

Ingin Segera Pensiun Dini? Ada Kelebihan dan Risikonya Loh!

3. Pengelolaan Emosi

Saham merupakan salah satu instrumen investasi yang cukup fluktuatif. Sehingga, tidak jarang investor saham, terutama pemula mengalami FOMO (Fear of Missing Out). FOMO adalah salah satu bentuk kurangnya pengendalian emosi ketika berinvestasi yang biasanya berujung penyesalan karena membeli atau menjual saham hanya berdasarkan ikut-ikutan teman atau kata orang lain.

Dalam pengelolaan emosi, belajar teori saja tidak cukup. Untuk bisa benar-benar mengendalikan emosi, kita perlu melatihnya secara terus-menerus.

Mau Dapat Keuntungan? Ya Belajar Investasi yang Bener!

Setelah memahami tiga hal di atas, pastikan juga kamu menemukan aplikasi investasi saham yang tepat.

Pastikan platform aplikasinya yang benar-benar bisa memberimu informasi lengkap dan terupdate tentang kondisi pasar modal dan perekonomian. Ini merupakan hal yang penting, karena pasar modal adalah tempat yang dinamis, sehingga kita perlu jeli agar bisa menangkap peluang yang ada.

1

Seperti Stockbit, yang punya banyak banget informasi harga emiten-emiten yang kita sukai, terus dibikin saja watchlist.

Caranya, buka aplikasi Stockbit kamu, lalu masuk ke menu watchlist. Tinggal add simbol, untuk memasukkan saham-saham yang ingin kita pantau. Dengan begitu, setiap kali kita membuka halaman, kita akan langsung bisa lihat harga saham-sahamnya.

Untuk yang masih ingin eksperimen, celup-celup kaki di kolam alias coba-coba beli, jangan khawatir juga. Di Stockbit ada kok fitur virtual trading. So, kamu bisa melakukan simulasi trading saham dengan rasa riil. Kayak beneran lagi trading, tapi kalau sialnya rugi, ruginya juga nggak beneran. Jadi, kamu bisa pelajari letak salahnya di mana.

Tapi, ya, jangan lama-lama di sini ya. Main games renang sama nyebur beneran itu beda banget loh!

2

Nah, kalau udah beneran mau beli saham, itu juga mudah banget di Stockbit. Tinggal klik aja tombol beli, lalu tentukan jumlah lotnya serta harga yang ingin kita dapatkan.

Nggak perlu langsung beli banyak dengan modal besar kok. Bisa mulai dari langkah kecil dulu, yang penting dapat pengalamannya, gimana sih rasanya investasi saham itu.

Biasanya sih, kalau sudah pernah beli, ya jadi pengin beli-beli terus. Apalagi kalau besoknya harga sahamnya naik. Sudah gitu, biasanya juga ini memancing kita untuk belajar lebih dalam lagi tentang emiten pilihan kita. Beda banget deh, dari belajar investasi biasa, kalau sudah praktik tuh.

Jadi, ya udah, langsung nyebur aja bareng Stockbit ya.

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.