Para pengamat bisnis awalnya memperkirakan setelah selesainya program tax amnesty akan membuat masyarakat Indonesia yang punya duit menjadi lebih tenang dan menjadi berani kembali berinvestasi di properti. Itu skenario bobo indah yang kerap disebut – sebut tahun lalu 2016.

Namun sejauh ini belum tampak perubahan permintaan yang signifikan. Program DP 0% rumah harga 350 jutaan gubernur terpilih Jakarta nantinya bila berjalan akan meningkatkan supply & demand properti kalangan bawah, sementara kajian pemberian pajak untuk hunian kosong jelas akan membuat para investor properti takut. Pelonggaran kredit rumah yang dikeluarkan pemerintah seperti menjadi kontradiktif dengan rencana kebijakan baru ini.

Melihat kondisi ini kita menjadi bingung, jadi gimana nasib properti sekarang ini ?

Baca Selengkapnya

Mengejar Kebebasan Finansial

“Ketika kecil nenek sering berkata, ayoo diabisiin makanannya, kasian looh banyak orang diluar sana yang tidak bisa makan “

Kalo tidak beruntung – beruntung amat secara finansial, pembaca yang lahir dibawah tahun 90 pasti mengalami hal – hal serupa. Kita diajarkan untuk hidup irit, menabung untuk masa depan kelak

Lalu apa yang terjadi sekarang ? 

kalau mau irit kita bisa beli kopi harga 2000 perak per sachet, yang kita lakukan malah membeli kopi seharga 60.000 rupiah, 30x lipat !!! Nenek penulis mungkin kalau masih ada sudah geleng – geleng kepala

Fakta memang menunjukkan pendapatan masyarakat Indonesia saat ini sudah jauh lebih baik dari masa lalu. Tren rata – rata pendapatan bila pada masa kita kecil sebelum tahun 90an hanya 1000 dollar, sekarang ini sudah hampir mencapai 4000 dollar

indonesia gdp per capita

indonesia gdp per capita

Penulis ingat dulu sering melihat gembel2 tidur dijalan, ketika melewati jalan hashim ashari, banyak gembel – gembel tidur didepan depan ruko. Memang saat ini juga masih ada. Namun angka itu sudah jauh menurun. selain juga dilarang oleh pemerintah pastinya.

Mungkin banyak yang berargumen biaya hidup jaman dulu  lebih murah. Pemikiran harga terus naik memang betul karena efek inflasi setiap tahunnya ( kenaikan harga barang ), namun tetap bila disesuaikan, daya beli kita saat ini sudah jauh lebih tinggi. Dulu makan kfc sama buffet hart’s chicken sudah barang mewah, sekarang ?

above all that, the question is what we really need to spend on monthly basis to living a proper life ? jadi berapa idealnya dana yang kita butuhkan untuk hidup setiap bulannya ? kalau tiap paginya dimulai dengan kopi 60 ribu dijamin mahaal..

Pertama kali penulis memikirkan ide ini adalah ketika dulu masa kuliah membaca buku adam kho mengenai financial freedom.. sekarang terdapat les2 sekolah adam khoo juga disini

Dalam buku itu dibahas secara sederhana berapa maksimal yang kita bisa untuk menabung dari penghasilan kita.. berapa besar biaya yang dibutuhkan untuk proteksi kesehatan, berapa lama kita bisa menabung, yaah intinya finansial planning, dan yang paling penting  berapa besar yang kita butuhkan ditakar dari pengeluaran bulanan idealnya

Terbawa budaya konsumerisme termasuk penulis, kita begitu terikat pada pekerjaan karena uang yang kita butuhkan, hingga melupakan apa alasan utama kita bekerja. Well jujur sapa sih yang ga menikmati kemewahan yang disediakan jaman sekarang ? makanan enak dimana – mana dengan tempat yang cozy.

Penulis tidak berencana meninggalkan semua itu dan kembali ke gua ( sueer ✌ ). Namun penulis tidak pernah melupakan apa alasan kita bekerja, penulis tidak ingin terus terjebak dalam kehidupan ” bekerja untuk uang ” karena bila kita bekerja untuk uang, kita bekerja bukan lagi untuk diri kita, cepat atau lambat kita juga akan berubah mengganti jati diri kita menjadi uang. Dan selanjutnya yang terjadi  menjadikan uang lebih penting untuk apapun ;(

Disinilah kita butuh membebaskan diri dari kecanduan akan uang tersebut. Bukanlah dengan berhenti bekerja, apalagi sampe menjadi alergi sama uang, namun menetapkan target untuk meraih mimpi itu, untuk mendapatkan kembali jati diri kita, melepaskan rantai dileher yang tak terlihat.

Maksudnya apa ?

Mengetahui berapa sebetulnya yang kita butuhkan hingga walaupun kita tidak bekerja, kita bisa tetap hidup. Karena bila kita telah mencapai titik itu, kita sudah sepenuhnya tidak lagi bekerja untuk uang, namun kita bekerja untuk memenuhi nilai hidup. Kalau bahasa kerennya dalam hirarki needs / kebutuhan  Abraham Maslow, mencapai hirarki tertinggi : ” self actualization ” . Kalo sekarang kan kita masih nyangkut dilevel kedua paling bawah, safety, butuh keamanan, ketenangan..

hirarki kebutuhan

Topik – topik seperti ini sering sekali diangkat oleh MLM dan asuransi menggunakan pembahasan finansial freedom yang dipopulerkan oleh Robert Kiyosaki penulis rich dad poor dad, dan yang parahnya digunakan juga oleh  investasi – investasi bodong yang menjanjikan ” mimpi ” kebebasan finansial. Orang mudah sekali tergerak ketika dibuai oleh mimpi – mimpi tersebut hingga akhirnya tertipu dan malah kehilangan assetnya. contoh paling gampang bisnis emas yang menjanjikan return 2% sebulan, bahkan beberapa teman kuliah finance penulis dulu juga ada yang ikut ( tepok jidat )

Karena peristiwa – peristiwa negatif tersebut penulis sebenarnya agak geli menyebut kata – kata ” kebebasan finansial ”  , namun penulis coba berpikir positif, karena pada dasarnya ini mimpi kita semua..

Tidak semua orang terlahir dengan kebebasan finansial, namun rasanya merupakan mimpi semua orang untuk memiliki kebebasan finansial.

Untuk mencapai mimpi itu dapat kita ukur apakah dapat terlaksana, dan butuh berapa lama hingga meraihnya.

Lalu gimana cara nya ?

Terdapat dua komponen utama yang perlu diperhatikan untuk menggapai impian tersebut.

  1. yang pertama adalah Pengeluaran. Perlu kita ketahui berapa pengeluaran ideal kita setiap bulannya, kita hitung berapa yang kita keluarkan untuk biaya rumah, transportasi, makan ,dan kebutuhan lainnya. Setiap orang pasti memiliki kebutuhan yang berbeda – beda, namun setidaknya kita sudah memiliki gambaran berapa yang kita keluarkan rata – rata setiap bulannya. Jangan lupakan juga asuransi, karena proteksi dari asuransi sangatlah penting, apakah cukup hanya dengan BPJS ? perlu diketahui penyakit adalah penyebab nomor 1 kebangkrutan. Jadi mempersiapkan perencanaan keuangan takkan terlaksana dengan baik tanpa mempersiapkan proteksi kesehatan.
  2. Yang kedua adalah Pendapatan. Berapa besar yang  kita dapatkan setiap bulannya? menyisihkan dana untuk diinvestasi juga perlu realistis, karena kita pasti memiliki kebutuhan operational dan cicilan yang menyedot cukup besar dari pendapatan kita. Taruhlah yang masuk akal kita menyisihkan sebesar 20% dari pendapatan kita untuk investasi

 

Setelah mengetahui pengeluaran & pendapatan. Tindakan selanjutnya kita perlu menetapkan berapa dana yang kita butuhkan nantinya untuk mencapai impian kebebasan finansial. Penulis tidak mau menggunakan asumsi ketika pensiun memakai dana pokok investasi dengan harapan cukup sebelum meninggal. Penulis tidak ingin nilai pokok investasi berkurang ketika sudah pensiun, jadi yang penulis inginkan simpelnya adalah dengan makan bunga aja penulis bisa hidup, jangan sentuh – sentuh pokoknya. Memang kalau dengan asumsi pertama dana investasi yang kita butuhkan jauh lebih kecil untuk pensiun nantinya. Namun sulit yaa menerima kalau duit kita berkurang terus, ga tenang iyaa, sayang juga iya liat rekening duitnya berkurang terus, tooh kan pasti ada warisan yang ingin kita tinggalkan pada anak cucu kita nantinya.

Sekarang mari kita mulai hitung – hitungan sederhana untuk mengetahui berapa dana yang kita butuhkan untuk mencapai target kebebasan finansial.

Misalkan kebutuhan hidup penulis adalah 10 juta setiap bulannya. Nah untuk mendapatkan bunga 10 juta setiap bulannya, berapa nilai pokok yang perlu kita miliki ? berapa persen bunga yang diberikan, dan apa instrumen nya ?

Misalkan penulis mengasumsikan pada saat mencapai kebebasan finansial nanti, penulis menginvestasikan pada instrumen rendah risiko seperti deposito , atau ORI dan mendapatkan bunga net 5% setiap tahunnya. Dengan asumsi tersebut berarti untuk mendapatkan bunga 10 juta setiap bulannya penulis menargetkan memiliki investasi sebesar 2,5 miliar rupiah. Dihitung dari 2,5m dikalikan 5% dan dibagi 12 bulan maka didapatkan bunga kira – kira 10 juta setiap bulannya

setelah mengetahui target yang penulis butuhkan adalah 2,5 miliar. Penulis menghitung dari sekarang berapa yang harus disisihkan dari pendapatan, berapa % ? realistiskah, kemudian investasinya ke instrumen apa ??

Dalam pemahaman penulis investasi yang sehat dan reliable hanya terdapat beberapa instrumen. Pertama direksadana saham dimana dana diinvestasikan di IHSG, kedua investasi di reksadana obligasi pemerintah, dan terakhir deposito. Properti juga ok, namun sulit untuk mengukur berapa rata – rata return nya dalam setahun, tidak ada data yang valid

rata - rata keuntungan investasi di Indonesia

Sayangnya dalam beberapa tahun terakhir keuntungan berinvestasi dipasar modal kurang menarik. Investasi di reksadana saham / IHSG saja hanya memberikan 12% setahunnya. Ya boleh – boleh saja siih orang lain mengklaim ” kata si itu investasi kesana bisa memberikan keuntungan 50% dalam 6 bulan.. ” tapi yang realistis ya seperti ini, kalo asal ikut kata si ” itu ”  siap2 aja tanggung risikonya sendiri.. Warren Buffet investor legendaris dunia dalam sejarah saja rata – rata return setahun nya hanya 15%.. tapi ingat ini hasil investasi selama lebih dari 40 tahun looh.

Penulis sendiri dengan investasi langsung disaham mendapatkan return jauh diatas itu, namun tingkat risikonya sangat tinggi, dan dapat dikatakan tidak sustainable. Ingat dalam berinvestasi peraturan nomor 1 adalah ” jangan kehilangan uang !! “

Ok laah kita menggunakan rata – rata return warren buffet sebagai asumsi kita, keuntungan 15% setahun

misalkan pendapatan penulis sebulannya 20 juta ( amiin ! ) maka dengan menyisihkan 20% dari pendapatan nilainya adalah 4 juta sebulan. Dari sini kita hitung, investasi 4 juta sebulan, keuntungan setiap tahunnya 15%, maka untuk memperoleh nilai investasi 2,5 miliar dibutuhkan waktu 15 tahun untuk mencapainya..

dana investasi untuk pensiun

Disini penulis tidak menggunakan asumsi inflasi, karena antara pengeluaran dan investasi yang disetor setiap bulannya konstan tidak ada kenaikan dalam 15 tahun kedepan

Memang waktu yang dibutuhkan tidaklah sebentar. Godaan untuk mencari investasi yang memberikan keuntungan lebih besar sangatlah tinggi. Namun sekali lagi, risiko nya besar sekali

Penulis sendiri menargetkan sudah memiliki kebebasan finansial setidaknya 10 tahun dari sekarang. Ya pilihannya antara menurunkan pengeluaran, atau menaikkan pendapatan. Menaikkan ekspektasi keuntungan dari investasi juga bisa namun konsekuensi nya risiko yang ditanggung penulis akan menjadi lebih tinggi.

Penulis bukannya pengen cepat – cepat pensiun dan onkang – ongkang kaki dirumah..kalo ga kerja bisa gila juga rasanya.. Namun karena penulis ingin meraih kebebasan, become the true me..

Itu mimpi penulis, kalau kamu ?

 

 

 

“aah sekarang rugii nabuung dibank, abiis dikenakan fee, jaman dulu enaak dapet bunga”

gerutu nasabah yang merasa kecewa sekarang menabung dibank rugi karena besarnya fee. Seandainya bunga tinggi seperti dulu, mungkin seperti itu gumam deposan yang kecewa karena terus menurunnya bunga tabungan.

Bila melihat dari sejarah pada masa lalu, maka pada masa – masa 90an bunga tabungan dapat mencapai 20%, bahkan saat krisis moneter 98 sampai menyentuh 50% !!  Enaaak beneer yaa jaman dulu, tinggal nabung trus ongkang – ongkang kaki, tu duit berkembang biak kemana – mana. Warren Buffet yang dibilang investor legendaris cape – cape baca laporan keuangan tiap ari ampe kacamata tebeel kayak gitu aja rata – rata return nya cuma 15% setahun.

Lalu kalau dulu bunga tinggi, kenapa sekarang harus turun ?

Baca Selengkapnya

“We’ve long felt that the only value of stock forecasters is to make fortune tellers look good. Even now, Charlie and I continue to believe that short-term market forecasts are poison and should be kept locked up in a safe place, away from children and also from grown-ups who behave in the market like children.”

-Warren Buffet-

Dalam salah satu quote nya Buffet mengatakan para expert investasi hanya membuat profesi tukang ramal tampak hebat. Menurut pandangan Buffet memprediksi arah pasar dalam jangka pendek tidak ada bedanya seperti Racun, dan sebaiknya menjauhkan diri dari niat tersebut..

Ketika penulis melihat situasi serupa terjadi diawal 2017 ini, penulis kembali teringat ucapan dari Opa Buffet. Di 2017 ini para ekspert investasi ramai – ramai meleset dalam membuat prediksi jangka pendek.  Begitu kompaknya para ahli ini meleset semakin menjelaskan pemahaman Buffet mengenai prediksi jangka pendek, wasting time !!

Kesalahan prediksi dimulai dari ketidaktahuan, dan ketidaktahuan itu bernama Donald Trump..

Terpilihnya Donald Trump menjadi presiden mungkin dapat dikatakan keajaiban terbesar di 2016 setelah leicester juara liga Inggris =P . Kemenangannya membuat pasar dalam ketidakpastian luar biasa, AS sebagai ekonomi terbesar didunia dapat dikatakan merupakan acuan akan arah ekonomi global. Dari pemimpin negara, pebisnis, hingga pelaku financial semuanya bingung. Ketika salah seorang direktur asset management terbesar Indonesia ditanyakan pendapatnya mengenai bagaimana arah investasi dengan kondisi ini, diapun menjawab ” emm emmm yaa akan kami digest ( cerna ) terlebih dulu hingga mendapat perkembangan yang lebih lanjut emm emmm..”

Tidak sampai 3 hari sejak Trump dilantik, pasar negara berkembang terkoreksi besar termasuk Indonesia, pasar meyakini kebijakan yang akan dilakukan Trump akan menyebabkan inflasi AS meningkat pesat dan membuat obligasi terkoreksi, sementara kebijakan proteksinya memberikan risiko pada perekonomian negara berkembang. Dari analis,ekonom, hingga para fund manager top Indonesia kompak merekomendasikan untuk menurunkan risiko. Dan benar saja obligasi Indonesia terkoreksi besar turun hingga -7% kira2 dalam beberapa bulan diakhir 2016.

Kekhawatiran pada obligasi Indonesia terus berlanjut hingga 2017. Para ekspert sepakat risiko global terutama dari AS sangatlah besar. Para Fund manager Bond ( obligasi ) ramai – ramai menurunkan durasi dimana itu berarti menurunkan risiko.

Keputusan para ekspert itu terbukti..

terbukti salaah !!!

well penulis tidak berlagak paling benar, hanya saja penulis melihat peristiwa yang lucu sekali, begitu kompaknya kumpulan para pakar ini dalam melakukan kesalahan prediksi.

Surprised or amazed redhead businesswoman

woooow

Yang terjadi pada obligasi selama periode Januari hingga maret malah menguat sekitar 5% dalam 3 bulan pertama 2017. Untuk pemain saham mungkin angka itu terasa kecil, namun untuk investor obligasi menguat 5% dalam 3 bulan itu WOOOOOW

Untuk merefresh saja bagi yang lupa.. Obligasi pemerintah merupakan surat hutang yang diterbitkan negara. Simplenya  sama seperti kita kalau berhutang wajib bayar bunga, misal 15 – 18% untuk KTA, pemerintah juga membayarkan bunga yang disebut kupon atau dalam kondisi real dipasar kita sebut yield. Buat yang sudah mengenal ORI atau SUKRI, itu merupakan surat hutang pemerintah yang dikhususkan untuk retail / individu seperti kita. Bedanya dengan hutang bank biasa, obligasi ini bisa diperdagangkan, ketika yield semakin naik maka pemegang obligasi merugi karena harga obligasi terkoreksi.

Pada awal 2017 bunga yang dibayarkan pemerintah untuk surat hutang bertenor 10 tahun adalah 7,9%. Terdapat beberapa hal yang mendasari kenapa pemerintah membayar bunga hutang sebesar itu seperti karena kredit rating yang dimiliki Indonesia saat ini, premium yang didapat dibandingkan dengan inflasi ( contoh yield obligasi secara rata – rata inflasi + 2%), dan perbandingan dengan obligasi AS yang merupakan acuan obligasi dunia. Contoh yield normal obligasi Indonesia 5% lebih mahal dari AS, maka ketika bunga hutang obligasi AS 2% normalnya Indonesia 7%, bila yield Indonesia 6% maka investor dapat mengatakan yield Indonesia kurang menarik secara spread ( selisih ) dengan AS.

bond indo maret

Apa yang terjadi di 2017 nyatanya hingga akhir maret bunga hutang pemerintah Indonesia yang tadinya dikhawatirkan naik, ,malah terus turun dari awalnya 7,9% hingga sekarang 7,0%.

Lalu apa sih yang membuat bunga hutang pemerintah Indonesia terus turun ?

Dugaan paling kuat adalah karena ditingkatkannya outlook kredit rating Indonesia oleh lembaga rating besar dunia. Lembaga rating merupakan pihak independen yang memberikan peringkat rating pada penerbit hutang, makin bagus ratingnya berarti risiko gagal bayarnya semakin rendah

Sementara dugaan penulis pribadi faktor lainnya adalah pemerintah membayar terlalu mahal !!! bayangkan saja negara seperti Filipina dan Thailand hanya membayar sekitar 4%, Singapura apalagi cuma sekitar 2%. Maka dapat dikatakan mispriced

Terlepas dari faktor yang membuat yield / bunga hutang terus turun, penulis seperti diingatkan lagi, memprediksi secara jangka pendek sangatlah sulit karena pasar kerap irasional.

Sederhananya begini, dalam 10 tahun kedepan siapa sih yang ga yakin perusahaan Indofood akan tumbuh lebih besar dari sekarang, pasti makin gede donk !! namun jika kita ditanya, “kalau minggu depan gimana ? ” maka jawabannya tentu tidak tahu..

Para Fund Manager atau para ekspert tentunya paham yield indonesia sangat tinggi dan secara jangka panjang akan terus turun, namun ketika seluruh dunia mengatakan ” ngerii boss !! ” terlalu berisiko bagi para ekspert di Indonesia untuk mengambil sikap kontrarian, risiko yang ditanggung tidak sepadan dengan kemungkinan keuntungan yang diperoleh, terlebih pendapat mereka mewakili korporasi besar, pada akhirnya para ekspert ini juga karyawan kawan 😉

 

“anak – anak perlu kalian ketahui, yang namanya berinvestasi itu high risk high return, yang paling rendah risikonya itu menabung/deposito, kemudian obligasi/ ORI, dan terakhir saham. Semakin tinggi risikonya maka jangka waktu investasinya harus lebih panjang..”

Kira – kira seperti itulah pemahaman yang kita dapatkan dibangku sekolahan, seminar, buku, ataupun dari financial planner yang kita jumpai.

Berbekal pengetahuan yang kita dapatkan maka mulailah kita berinvestasi untuk mendapatkan keuntungan yang lebih baik dimasa depan. Beberapa yang risk taker berinvestasi langsung disaham atau direksadana berbasis saham.

apalagi dalam masa – masa panen saham, sering terdengar bisikan dari relasi ataupun financial planner betapa mudahnya mencari keuntungan bermain saham, akhirnya kitapun tergiur dengan potensi keuntungan yang menjanjikan, walaupun kita tahu kita sebenarnya bukan tipikal yang gemar mengambil risiko.

Lalu benarkah investasi disaham lebih menguntungkan ? terlebih dalam jangka panjang ?

Bisakah investasi kita tinggal tidur tanpa mengikuti perkembangan sama sekali ?

Baca Selengkapnya