Kita Sudah sering mendengar salah satu pilihan terbaik dalam berinvestasi adalah reksadana. Namun ketika kita tanyakan lagi reksadana yang bagus, Kerap jawaban yang diberikan berbeda – beda. Memang pada umumnya menjawab reksadana yang dikelola oleh manajer investasi besar ( pengelola dana investasinya ). Namun apa betul selalu demikian “ Big,fat, Beautiful ?? “

Tidak semua yang paling besar itu diperuntukkan untuk kita, oleh karena itu sebelum membeli reksadana ada baiknya kita ketahui dulu bagaimana cara memilih manajer investasi.

 

4 tips memilih manajer investasi

Jika ditanya mau keuntungan seberapa ? semua pasti menjawab mau untung setinggi – tingginya, Tapi terlepas dari itu, perlu kita ketahui, apa kita siap kalau menghadapi risiko kerugian ditengah jalan ? Naah untuk mengetahuinya mari kita ketahui 5 tips memilih manajer investasi :

 

1. Ketahui kebutuhan kita

Telepas kita ingin keuntungan yang setinggi – tingginya ada hal yang lebih penting dan lebih berat yang harus siap kita hadapi. “ apa kita siap rugi ?? “ ingaat investasi reksadana itu tidak menjamin keuntungan looh, walaupun secara jangka panjang akan untung, tapi jangka panjang itu hitungannya tahunan, apa kita tahan menahan kerugian sampai bertahun tahun ? sebulan aja berasa lama kalo lagi rugi =P

Oleh karena itu lah makanya investasi yang memiliki risiko tinggi seperti reksadana saham lebih disarankan untuk orang muda, single.. Supaya kalo rugi yaaaa..  kerja cari duit lagiii 😝😝

Enggak.. enggak.. ga gitu..

apa yang kamu butuh

Kenapa disarankan untuk orang muda, karena kalau sudah berumur atau memiliki tanggungan akan lebih rentan membutuhkannya sewaktu – waktu, sementara investasi reksadana saham tidak dapat ditebak kapan untungnya.  Dengan kondisi demikian perlu kita ketahui dulu secara kebutuhan dan mental, apa kita siap menghadapi risiko rugi ? kalau kita memang siap, yasuda kita cari manajer investasi yang memiliki track record return sangat baik, let’s take a risk !!

ketahui karakter investasimu di halaman tipe investor

2. Manajer investasi Asing & Lokal

Pada umumnya perbedaan yang signifikan antara manajer investasi asing dan lokal adalah dari jumlah dana yang dikelola, masyarakat pada umumnya masih lebih percaya menginvestasikan dananya ke perusahaan asing, apalagi pada umumnya manajer investasi asing sudah memiliki jaringan distribusi yang lebih kuat yaitu melalui perbankan.

Dengan besarnya dana kelolaan manajer investasi asing, membuat mereka lebih sulit dalam mengambil kesempatan menjadi oportunis ( ibarat kapal pesiar mereka menjadi tidak lincah ). Secara manajemen risiko mereka juga jauh lebih ketat, sering terjadi mereka tidak dapat membeli saham karena terbentur rasio , market cap, keuangan,Good Corporate Governance, dan lainnya yang telah diterapkan oleh perusahaan. Kelebihannya mereka berani menghire karyawan – karyawan dengan track record terbaik, sehingga jangan heran bila semua karyawannya memiliki edukasi dan pengalaman kerja yang mentereng.

Sementara manajer investasi lokal umumnya memiliki dan kelolaan yang lebih kecil. Manajemen risiko mereka juga jauh lebih longgar, tapi bukan berarti itu selalu jelek yaa, kembali lagi, apa kebutuhan kamu. Karena dana kelolaan mereka yang belum besar dan tidak terlalu banyak batasan, manajer investasi jadi lebih memiliki kebebasan dalam menentukan saham yang dia inginkan. Positifnya, jika si manajer investasi memang ahli dalam mengelola, maka keuntungan yang diberikan dapat jauh melampaui manajer investasi asing, terutama ketika pasar sedang rally naik

Namun begitu juga sebaliknya, jika pasar sedang turun, kerugian yang diderita bisa lebih besar, karena banyak membeli saham – saham “berisiko”.

Tooh faktanya banyak kan masyarakat yang gemar mengambil risiko ? banyak yang berani bermain saham sendiri, dan beli sahamnya lucu – lucu lagi. Daripada menanggung risiko seperti itu tanpa pemahaman yang memadai dan ujung – ujungnya rugi terus nyalahin maen saham itu pasti rugi ( kayak yang sekarang lagi nyangkut di cryptocurrency =P ), lebiih baik kamu beli aja reksadana di manajer investasi lokal yang berani dalam membeli saham – saham berisiko. Mereka memiliki sumber informasi yang lebih baik, pengetahuan yang lebih dalam, dan keahlian mengelola dana yang jelas diatas rata – rata.

Seperti penulis pernah beritahukan dahulu. Ketika menjadi broker saham diawal – awal karir dari hampir 100 nasabah, hanya 2 – 3 orang saja yang dapat dikatakan untung, laennya modaaar..

baca artikel terkait diblog Danirachmat.com , dimana penulis menjadi guest blogger menulis kehidupan fund manager dibelakang layar

3. Rasio yang perlu perlu enggak

Kalau kamu sudah familiar dalam berinvestasi direksadana atau memiliki financial planner pribadi ( kereeen amaaat 😆 😆) maka besar kemungkinan kamu sudah diperkenalkan dengan rasio  – rasio investasi yang digunakan untuk memilih reksadana sebagai berikut

  • Beta dimana artinya fluktuasi dibandingkan indeks acuan, semakin tinggi beta, semakin tinggi fluktuasinya dan dianggap semakin berisiko
  • Sharpe Ratio, yaitu keuntungan dikurangi risk free rate kemudian dibagi deviasi. Sederhananya sharpe ratio ini ingin mengetahui investasimu lebih baik dari deposito ga ? kalo lebih baik maka hasilnya positif, kemudian dibandingkan dengan fluktuasinya. Semakin positif sharpe ratio tersebut maka semakin baik reksadana tersebut, bahasa kereennya risk adjusted return

Lalu, kepakai enggak rasio ini dalam prakteknya ?

Kagaaaaak !!!

Karena sharpe ratio ini umumnya dihitung berdasarkan perfoma satu tahun terakhir. Dan satu tahun terakhir itu sangat – sangat tidak menggambarkan baiknya pengelolaan manajer investasi, membuat rasio ini menjadi Bias bangeet.

Sementara beta itu juga bias. Beta itu dipersepsikan semakin besar fluktuasi maka makin berisiko. Reksadana isinya saham betul ? betuul !! naah saham – saham blue chip seperti Bank Mandiri aktif diperdagangkan, aktif ada pergerakan naik turun setiap hari, sementara saham – saham gorengan itu dalam satu tahun 9 bulannya tidur nyenyak,  3 bulannya baru gerak liar karena digoreng.. Kira – kira gedeaan mana betanya, yang gerak tiap hari atau yang gerak 3 bulan dalam setahun ?? ketahuan kan jawabannya =P

Dalam menghitung valuasi beta jelas digunakan, dalam membandingkan antara reksadana satu dan lainnya sharpe rasio memang merupakan salah satu rasio yang tepat sebagai sarana perbandingan. Namun ketika menggunakan rasio – rasio ini dalam reksadana di Indonesia penulis memandang tidaklah aplikatif, lebih bersifat “kosmetik” saja, bahan sales jualan supaya terlihat berkelas.

4. Konsistensi Return

Inilah yang penulis paling suka, Simple !!!. Ga perlu pusink – pusink pake rasio. Lihat saja keuntungannya dari tahun ke tahun. Manajer investasi umumnya mengukur kinerja mereka setiap tahun. Apabila kita ketahui kinerja dari manajer investasi tersebut dalam 3 tahun terakhir ( 2015,2016,2017 misalnya ) memberikan keuntungan yang lebih baik dibandingkan manajer investasi lainnya, maka dapat dikatakan manajer investasi tersebut memang handal, Pilihlah dia !!

notes : perhatikan perfoma manajer investasi ketika pasar sedang turun, menunjukkan keahliannya dalam mengelola risiko

 

Memilih Manajer Investasi yang Tepat

Semua kembali berawal dari kita sendiri. Tipe investor apakah kita ? sanggupkah kita menahan risiko ??

setelahnya  kita tentukan mana manajer investasi yang tepat buat kita. Menginvestasikan dana kita di manajer investasi asing yang besar, menjanjikan manajemen risiko yang sangat baik atau pilih manajer investasi lokal yang seperti hal nya menitipkan dana kita pada teman yang jago maen saham, untungnya bisa gede banget, bisa juga rugi nya yang gede. Tidak ada yang salah, tidak ada yang benar. Kembali pada pilihan kita.

dan terakhir selalu perhatikan konsistensi return ketika pasar sedang baik ataupun buruk dalam beberapa tahu terakhir, itu saja cukup untuk mengetahui baiknya kinerja manajer investasi tersebut

kamu dapat melihat kinerja reksadana dari beberapa manajer investasi disini :

 

Tahun baru harapan baru !! setelah melalui tahun investasi yang memuaskan di 2017, kita memulai ekspektasi baru di 2018. Kira – kira apa yaa yang bakal naik banyak tahun ini ??? Bicara investasi 2018 maka kita perlu tahu dulu niih situasinya gimana supaya ada gambaran investasi apa yang punya potensi menarik, ingaat selalu teliti sebelum membeli 🤓🤓

Read More

“ Iya gajinya gede tapi biaya hidupnya juga mahaal.. “

kita sering mendengar celetukan itu ketika kenalan kita ketika membahas mengenai kerja diluar negeri, apakah itu di Jepang, timur tengah, ataupun malaysia. Dengan status negara berkembang Indonesia memiliki persepsi sebagai negara dengan biaya hidup yang murah. Namun betulkah persepsi itu ? apakah betul biaya hidup di jakarta murah ? gimana kalau dibandingkan Kuala Lumpur ? rasanya ga percaya murah, sapi 1 kilo aja harganya 100 ribu lebih, ndaasmu muraah !! 😤

Untuk mengetahui apakah biaya hidup jakarta mahal atau murah penulis membandingkan dengan ibukota dari negara tetangga seperti kuala lumpur dan bangkok. Singapore penulis coret karena sudah jelas sangat mahal. Biaya hidup kita lihat dari 3 pengeluaran utama paling besar dari masyarakat pada umumnya yaitu biaya makan, biaya transportasi, biaya tinggal.

Read More

Satu tahun adalah waktu yang panjang, banyak kejutan yang dapat terjadi diluar dugaan kita. Bila kita bicara tahun lalu, maka tidak akan ada yang percaya bunga deposito bisa turun hingga 4%. Penulis juga tepat 1 tahun lalu  menulis tentang bunga deposito 4% itu masuk akal, namun tidak menyangka dapat secepat ini. Hanya butuh waktu satu tahun kita dapat melihat suku bunga turun hingga kelevel yang sedemikian rendah. Siapa yang sangka bunga ORI bisa cuma ngasi 5,85%, laah tahun lalu dikasi bunga ORI cuma 6,6% aja uda marah – marah bilang kecil. Jadi kecil itu seberapa kecil sih sebenarnya ? turun bisa sampai seberapa turun ??

Read More

Setiap orang memiliki gaya investasi yang berbeda beda. Setelah mempelajari berbagai hal dan berdasarkan pengalaman yang dijalani, setiap orang memiliki ciri sendiri bagaimana mereka berinvestasi. Setelah banyak belajar ketika bekerja sebagai analis ekuitas dan berdasarkan pengalaman sendiri penulis memiliki ciri sebagai value investor ketika berinvestasi. Tantangannya sebagai value investor adalah kita melawan arus, ketika ratusan atau bahkan ribuan orang pintar memilih untuk keluar, kita sendirian masuk dan mengatakan “kamu salah ! “. Pertanyaan utama ketika kita menjadi value investor adalah Do You Dare ??

Read More