Kebebasan Finansial

Tip Berinvestasi Saat Bear Market: Biar Tetap Cuan dan Tenang

Dalam investasi saham, ada dua kondisi pasar yang harus diperhatikan oleh investor yaitu bear market dan bullish market.

Tidak ada yang bisa memperkirakan dengan pasti, kapan kedua kondisi pasar ini terjadi. Tapi, sebagai investor kamu mesti memiliki strategi untuk menghadapinya agar meminimalkan risiko.

4 Siklus Investasi yang Perlu Kamu Ketahui

Kenalan dengan Bear Market dan Bull Market

Awal mula munculnya istilah kedua kondisi ini sebenarnya tidak ada hubungan dengan pasar saham. Orang-orang menganalogikan kedua jenis hewan ini untuk sekadar menunjukkan kondisinya.

Bull market diambil dari hewan banteng, yang ketika dia bertarung akan menyerundukkan tanduk ke atas. Sebaliknya, bear market diambil perumpamaan dari hewan beruang, yang ketika menghadapi musuhnya akan menghujamkan cakarnya ke arah bawah.

Ringkasnya, bull market akan menunjukkan harga saham tengah mengalami kenaikan. Sedangkan bear market sebaliknya, yaitu harga saham turun.

Istilah ini berkembang dari kebiasaan pemburu di negara Inggris di abad ke-17, ketika mereka menjual kulit beruang sebelum berhasil menangkapnya. Inilah yang dilakukan oleh para short sellers di pasar saham yang menjual saham sebelum mereka memilikinya.

Akhir-akhir ini, pasar saham bergejolak merespons berbagai isu yang beredar pun dengan pandemi yang belum usai. Penyebaran virus COVID-19 yang belum usai, pemberlakukan PPKM di Jawa-Bali yang berdampak negatif terhadap penguatan IHSG, ini tentunya menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya bear market.

Apa yang menyebabkan bear market dikhawatirkan? Dan bagaimana tip investasi saham saat bear market? Berikut penjelasannya.

bear market 1

Mengenal Kondisi Bear Market

Di atas sudah dijelaskan bahwa bear market menunjukkan pasar saham mengalami penurunan, untuk kisarannya ada di angka 20% bahkan lebih.

Efeknya apa?

Apabila dibiarkan, bear market bisa mengakibatkan terjadinya depresi ekonomi. Fenomena ini tentunya bisa menghambat pertumbuhan ekonomi secara umum. Di sisi investor, biasanya mereka akan menjual saham untuk menghindari kerugian.

Kondisi pasar saham seperti ini bisa berlangsung dalam rentang waktu cukup lama, mulai bulanan sampai tahunan. Walaupun sesekali akan terjadi koreksi, sayangnya arahnya cenderung menurun.

Untuk mengenal kondisi bear market ada empat indikator yang mesti diketahui, yaitu:

Ekonomi melemah

Bear market biasanya akan muncul saat investor mulai mengantisipasi terjadinya penurunan aktivitas ekonomi.

Contohnya ketika terjadi resesi ekonomi. Di periode tersebut, bisa dilihat bahwa tingkat pengangguran tinggi, daya beli masyarakat rendah. Lebih detail lagi, pendapatan rumah tangga mengalami penurunan memberi efek ke penurunan permintaan akan barang, jasa serta profit bisnis pun menurun.

Penurunan laba perusahaan secara langsung berimbas pada valuasi harga saham.

Adanya kebijakan ekonomi agresif

Salah satu sumber kepanikan yang terjadi di masyarakat adalah meningkatnya suku bunga secara drastis. Hal ini mungkin terjadi karena tingginya nominal utang dan risiko gagal bayar oleh pemerintah.

Tak hanya itu juga, kenaikan suku bunga mungkin akan terjadi selama periode inflasi yang tinggi. Untuk bisa meredamnya, maka bank sentral akan menaikkan suku bunga. Efeknya, pertumbuhan ekonomi akan mengalami kontraksi karena permintaan agregat yang jatuh secara signifikan.

Terjadinya peristiwa yang tidak terduga

Contoh yang paling konkret bear market adalah saat pandemi Covid-19. Secara langsung, pandemi ini menghantam ekonomi dunia dan memicu kepanikan di kalangan investor.

Para investor pun segera menarik portfolio mereka ke dalam aset yang jauh lebih aman. Investor menghindari aset yang berisiko seperti saham di sektor pariwisata, perdagangan, dan transportasi.

Di negara kita sendiri, pandemi ini menyebabkan investor asing menarik diri dan efeknya kejatuhan di pasar saham juga pasar surat utang pemerintah.

Psikologi dari investor

Sudah menjadi rahasia umum bahwa psikologi sangat memengaruhi langkah dan strategi jual beli dari para investor. Nah, aksi jual yang dilakukan oleh sebagian investor saat bear market bisa menyulut kepanikan investor yang lain, efeknya pun pasar mengalami guncangan.

Bear market pasti akan memunculkan kekhawatiran bagi para investor walaupun ini merupakan fenomena yang umum terjadi. Untuk menghadapinya, berikut ini tip investasi saham saat bear market yang bisa kamu terapkan.

Tip Berinvestasi Saat Bear Market: Biar Tetap Cuan dan Tenang

Tip Investasi Saham Saat Bear Market

Tetap tenang

Faktor psikologi sangat menentukan ketika menghadapi kondisi pasar saham.

Ketakutan wajar terjadi tapi jangan biarkan hal ini menggerogoti psikologi kamu, ya. Kamu harus bisa memisahkan emosi dari langkah membuat keputusan investasi. Ketika kamu dalam keadaan panik atau takut, maka otomatis kamu tidak bisa berpikir jernih. Mengambil keputusan di kondisi ini sama saja mendatangkan kerugian.

Jadi, take a time, take a breath. Tenang. Ingat, kondisi bear market wajar terjadi dan pasti akan berlalu.

Akumulasi dengan dollar cost averaging (DCA)

Penting untuk diingat bahwa selama ekonomi melemah, ini merupakan kondisi yang normal terjadi di pasar saham. Well, ini bagian dari siklus bisnis. Apabila kamu adalah investor saham jangka panjang (dengan horizon waktu lebih dari 10 tahun), opsi yang bisa mendatangkan keuntungan adalah dollar cost averaging.

Dollar cost averaging (DCA) merupakan salah satu strategi ketika seorang investor akan menginvestasikan sejumlah uang dalam peningkatan kecil dari waktu ke waktu. Adapun tujuan dari strategi ini untuk bisa mendapatkan keuntungan dari penurunan pasar yang terjadi tanpa mesti mempertaruhkan banyak modal dalam rentang waktu tertentu.

DCA ini dirancang untuk bisa membantu investor mengimbangi efek negatif di investasi. Dengan demikian, jika harga saham turun dan kamu menerapkannya, maka kamu bisa meraup cuan ketika harga bergerak naik kembali.

Playing dead

Sebuah perumpamaan lama mengatakan bahwa salah satu jalan terbaik ketika kamu bertemu dengan beruang di hutan adalah dengan pura-pura mati. Karena jika kamu memilih untuk menyerang, ini tentunya akan mengancam keselamatan kamu.

Analogi ini juga bisa diterapkan ketika mengalami bear market. Tetap tenang dan hindari melakukan keputusan yang terburu-buru akan menyelamatkanmu di kondisi ini.

Playing dead di bidang keuangan berarti menempatkan porsi besar di portfolio kamu di pasar uang, seperti deposito dan instrumen lainnya yang memiliki tingkat likuiditas yang tinggi dan maturitas yang rendah.

koreksi ihsg

Lakukan diversifikasi

Diversifikasi adalah aktivitas wajib bagi investor. Kamu bisa melakukan diversifikasi investasi ke obligasi, deposito, pasar uang dan instrumen investasi lainnya.

Bagaimana kamu menempatkan portfolio tergantung seberapa besar toleransi risiko, jangka waktu, tujuan dan lain sebagainya. Karena setiap investor memiliki kondisi yang berbeda-beda tentunya.

Strategi menempatkan alokasi aset akan membuat kamu terhindar dari efek negatif investasi.

Melirik saham di industri defensif

Sektor defensif umumnya kurang mendapatkan efek buruk ketika terjadi bear market. Perusahaan yang bergerak di industri defensi bekerja lebih baik dan stabil selama pasang surut kondisi ini. Karena stabil, perusahaan bisa memberikan dividen juga capital gain yang baik terlepas dari kondisi pasar.

Memegang uang cash lebih banyak

Saat bear market, investor lebih memilih untuk meningkatkan jumlah cash on hand. Tujuannya sih untuk berjaga-jaga. Selain itu, mereka juga akan menempatkan di beberapa mata uang yang masuk kategori ‘safe havens’ seperti Euro dan dolar AS untuk mengurangi terjadinya eksposur risiko penurunan.

Situasi ekonomi memang rentang berimbas terjadinya bear market. Oleh karena itu, oleh ahlinya disarankan untuk tidak panik, kelola faktor psikologis dan lakukan tip investasi saat bear market di atas.

Nah, semoga bermanfaat ya, dan investasimu tetap dapat mendatangkan keuntungan meski sedang terjadi bear market.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.