Equity

Pahami 8 Jenis Risiko Investasi Sebelum Memulai Investasi

Memutuskan untuk melakukan investasi sangatlah baik. Tapi, jangan asal ikut-ikutan ya apalagi tren investasi sekarang ini lagi naik daun. Memilih investasi harus diiringi pemahaman akan profil risiko, instrumen dan risiko investasi sendiri.

Bagi kamu yang baru memulai investasi, biasanya akan mengalami sedikit kebingungan harus mulai dari mana sih? Belum lagi ditambah iming-iming bahwa dengan investasi X kamu akan mendapatkan imbal hasil yang besar. Hold on, jangan dulu terlalu terlena dengan tawaran seperti itu.

Kamu harus mengubah pandangan bahwa udah investasi berarti akan cuan terus. Tidak.

Yang namanya investasi pasti akan ada risiko yang mengiringinya. Seperti halnya kita memutuskan untuk memilih satu produk misalnya, pasti ada risiko yang harus dihadapi, tidak sekarang tapi di kemudian hari. Analogi sederhana ini berlaku juga dalam investasi.

Apa sih Risiko Investasi?

Kenali Apa itu Investasi Saham Aktif dan Pasif, dan Apa Bedanya?

Risiko investasi adalah seberapa besar tingkat potensi yang akan muncul karena imbal hasil investasi yang diharapkan ternyata tidak sesuai dengan harapan. Investasi ini tak selamanya akan cuan terus tapi juga menyimpan kemungkinan risiko atau kerugian.

Apa pun pilihan investasi yang kamu pilih, pasti akan ada risikonya.

Pernah mendengar istilah high risk, high return? Semakin tinggi tingkat risiko, maka semakin tinggi pula keuntungan yang bisa kamu dapatkan. Namun, perlu juga digarisbawahi risiko investasi adalah satu entitas yang tidak bisa dipisahkan dari investasi itu sendiri.

Risiko investasi ini harus diwaspadai kalau tidak pengin rugi. Tidak ada satu pun orang yang memulai investasi alih-alih untung malah buntung. Benar nggak? Oleh sebab itu, kamu harus kenali dulu risiko investasi yang bisa saja terjadi dan solusi untuk mengatasinya.

Kenali Jenis-jenis Risiko Investasi

tips memilih manajer investasi yang tepat untuk reksadana

1. Risiko Pasar

Jenis risiko investasi yang pertama adalah risiko pasar. Bisa dikatakan risiko pasar ini tidak bisa dihindari dan investor akan selalu mengalaminya.

Eits, jangan kaget dulu. Begini penjelasannya.

Risiko pasar merupakan risiko fluktuasi Nilai Aktiva Bersih (NAB) sebagai efek perubahan sentimen pasar keuangan (seperti obligasi dan saham) dan sering juga disebut risiko sistematik (systematic risk). Efek dari risiko pasar ini memang tidak mengenakan karena investor akan mengalami capital loss.

Perubahan ini terjadi karena beberapa hal seperti isu politik, resesi ekonomi, kerusuhan, isu, spekulasi dan lain sebagainya. Contohnya, isu reshuffle kabinet, biasanya ini akan berdampak pada fluktuasi nilai dari rupiah terhadap dolar yang akan naik.

Kamu tidak perlu panik dan buru-buru mencairkan dana investasi ketika menghadapi kondisi fluktuasi pasar. Mengapa? Karena penurunan atau peningkatan aset investasi seperti ini tidak akan terjadi terus-menerus.

2. Risiko Suku Bunga

Risiko suku bunga adalah risiko yang muncul karena adanya perubahan suku bunga yang terjadi di pasaran dan efeknya memengaruhi imbal hasil investasi. Dan ini biasanya terjadi pada investasi obligasi dan juga pinjaman.

Pada umumnya, apabila suku bunga naik, harga obligasi berbunga tetap akan mengalami penurunan, begitu juga sebaliknya. Dan biasanya risiko suku bunga diukur dengan salah satu teknik yang sering digunakan untuk mengelola risiko yaitu jangka waktu obligasi.

Misalnya, suku bunga obligasi 8-10%, tapi di kemudian hari pemerintah mengeluarkan Sukuk Ritel dengan suku bunga 12%. Sudah pasti investor akan lebih menyukai sukuk ritel ini.

risiko investasi 1

3. Risiko Likuiditas

Risiko likuiditas terjadi karena kesulitan menyediakan uang tunai dalam jangka waktu tertentu. Apabila satu aset tidak bisa dikonversi menjadi uang tunai, maka aset tersebut tidak likuid.

Dan biasanya risiko likuiditas potensi besar terjadi pada pasar yang baru akan tumbuh atau memiliki volume kecil. Risiko jenis ini berkaitan dengan percepatan sekuritas yang diterbitkan dari pihak perusahaan yang akan diperdagangkan di pasar sekunder.

Contoh dari risiko likuiditas, apabila kamu ingin menjual salah satu aset untuk melunasi pinjaman tapi sayangnya tidak ada pihak lain di pasar yang berminat untuk membelinya. Inilah yang dimaksud dengan risiko likuiditas.

Tapi, perlu diketahui ini berbeda ya jika terjadinya penurunan harga aktiva. Karena untuk kasus penurunan harga aktiva, pasar menganggap aktiva tersebut tidak bernilai. Jadi, tidak ada pihak yang tertarik untuk menukar atau membeli aktiva yang disebabkan oleh sulitnya mempertemukan kedua belah pihak.

4. Risiko Inflasi

Risiko inflasi sering juga disebut sebagai risiko daya beli. Risiko ini berhubungan dengan nilai investasi yang tidak akan lagi sama di masa akan datang karena perubahan daya beli sebagai efek dari inflasi.

Ini tentunya akan sangat merugikan daya beli masyarakat terhadap investasi karena adanya kenaikan rata-rata dari harga konsumsi. Investor yang mengalami risiko ini adalah mereka yang memegang uang tunai atau melakukan investasi dalam aset yang terkait inflasi. Nah, investor yang memegang uang tunai ini akan mengalami kerugian di mana nilai uang tunai akan berkurang karena inflasi

Pahami Jenis-jenis Risiko Investasi Sebelum Memulai Investasi

5. Risiko Valas

Risiko valas dikenal dengan sebutan currency risk atau exchange rate risk. Risiko ini disebabkan oleh perubahan kurs valuta asing di pasaran yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, terutama ketika dikonversi ke mata uang domestik. Singkatnya, risiko investasi ini berkaitan dengan fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap mata uang negara lain.

Contohnya, ada investor yang ingin melakukan investasi tapi syaratnya harus menggunakan mata uang dolar. Namun, di saat yang sama kurs rupiah terhadap dolar lemah, sehingga investor tersebut mesti mengeluarkan rupiah dalam jumlah yang banyak. Jadi, melemahnya nilai rupiah terhadap dolar memberikan kerugian bagi investor.

6. Risiko Reinvestment

Jenis risiko investasi ini terjadi pada saat penghasilan dari satu aset keuangan yang mewajibkan perusahaan melakukan aktivitas re-invest. Untuk melakukan re-invest ini, perusahaan perlu memahami kegiatan re-invest yang akan dilakukan dan juga cara mengatur serta mengelola risiko investasi.

koreksi ihsg

7. Risiko Negara

Kok ada risiko negara?

Risiko negara atau biasa disebut risiko politik. Ini didasarkan pada kondisi politik negara tersebut. Selain itu, risiko ini juga terkait dengan perubahan ketentuan perundang-undangan.

Jadi, bagi investor yang mau menanamkan modal di luar negeri, sebaiknya mengetahui terlebih dulu kondisi politik negara tersebut. Apabila kondisinya baik, maka dampak ke investasi pun akan positif.

8. Risiko Wabah Penyakit

Pandemi Covid-19 mengajarkan kita akan banyak hal tentang kehidupan termasuk investasi. Risiko investasi akibat pandemi ini tidak main-main efeknya. Dampaknya tidak hanya satu negara tapi seluruh dunia.

Pasar saham menukik tajam, merayap. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang turun lebih dari 20% dalam kurun waktu kurang dari sebulan dari periode Februari-Maret 2020. Emiten besar perbankan seperti Bank Mandiri, BCA, BNI pun tak luput dari hantaman pandemi dengan penurunan saham lebih dari 5%.

Semoga penjelasan di atas bisa menambah pemahaman kamu akan risiko investasi. Tapi, jangan jadikan hal-hal di atas sebagai momok dan alasan tidak mau berinvestasi. Ingat saja, apapun yang ada dalam kehidupan pasti ada risikonya.

Jangan takut untuk melangkah dalam berinvestasi, yang penting kamu tahu risikonya agar bisa melakukan mitigasi untuk mencegah kemungkinan terburuk terjadi.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.