Freedom of Mind

Naik Gaji, Dihabisin, dan Nunggu Gajian Lagi – Untuk Apa?

Siapa nih yang barusan naik gaji?

Yah, sebagai karyawan, kalau naik gaji, ya pastinya seneng dong ya. Apalagi kalau ada pembagian bonus juga, happy banget! Terus, kalau kayak sekarang, puasa dan sebentar lagi bakalan dapat THR. Happy banget!

Langsung deh, ganti gadget baru, yang paling canggih! Belanja barang-barang branded, yang sudah lama di keranjang, check out semua! Habis itu, buka aplikasi perjalanan; pesan tiket pesawat sama tiket hotel ke lokasi kekinian yang viral.

Setelah siklus jor-joran sesaat tersebut, selanjutnya kembali ke fase irit berkepanjangan. Ada sih beberapa yang bisa disalurkan jadi aset atau investasi, tapi ya lebih banyak yang berakhir menguap, tak berbekas.

Ada yang salah? Apakah memang harus begitu siklus orang gajian?

Generasi Milenial Indonesia = Generasi Mujur?

Naik Gaji, Terus Apa?

Yang namanya naik gaji itu sebenarnya sudah semacam kewajaran. Setidaknya, perusahaan memang harus menyesuaikan dengan tingkat inflasi yang bertambah. Meskipun ya, kembali lagi pada kebijakan perusahaan masing-masing. Kita enggak bisa menuntut setiap perusahaan bisa menaikkan gaji setiap tahun. Kan, ada banyak kondisi yang memengaruhi.

Nah, terus, kalau kita naik gaji, terus apa? Apakah lantas sah-sah saja kalau kemudian lifestyle juga meningkat? Gaji tinggi, bukankah itu suatu sinyal kalau kita sukses dalam bekerja, dan berhak untuk memberi hadiah pada diri sendiri? Terus merasa layak dan sepantasnya kalau kemudian kita menghabiskannya demi healing dan so-called kesehatan mental?

Memang boros sudah pasti menjadi salah satu faktor penyebabnya.

Nggak perlu ditutupi dengan healing dan kesehatan mental. Tapi masalah boros tidak akan selesai tanpa memahami penyebabnya. Kalau nyatanya kita terjebak dalam ilusi kesuksesan, yang malah membuat kita nggak pernah keluar dari siklus orang gajian, ya terus mau apa?

Nggak penat memang, hidup paycheck to paycheck, meski naik gaji berkali-kali?

Mimpi Masa Kecil, Mimpi yang Sulit Dicapai (?)

Ilusi Kesuksesan

Sadarkah kamu? Ilusi kesuksesan—bahwa kita merasa layak untuk sukses, dan “merayakan” kesuksesan dengan berbagai hal konsumtif sampai uang habis—itu justru membuat kita terus terobsesi kerja, untuk mendapatkan uang yang lebih besar, untuk dihabiskan lebih banyak lagi. Realitanya, hal itu membuat kita semakin terhanyut lebih dalam, tanpa menyadarinya.

Dalam perjalanan karier, mungkin kita pernah mengalami naik gaji yang besar. Puluhan persen, bahkan bisa sampai ratusan persen. Peningkatan yang membuat kita merasa telah mengecap kesuksesan, yang sebenarnya adalah ilusi belaka. Karena hal itu hanyalah pembenaran terhadap perilaku boros kita.

Sungguh pembenaran yang membuat kita kemudian mengira, bahwa kita sudah mendekati citra orang sukses yang banyak kita lihat di sosial media.

Realitanya kerja keras tidak membuat kita menjadi lebih dekat dengan apa yang dimiliki para owner perusahaan, para konglomerat.

naik gaji 1

Gap yang Semakin Lebar

Pernahkah kamu menghitung, seberapa besar kenaikan gaji yang kita dapatkan dengan peningkatan kekayaan para owner perusahaan itu?

Kenaikan gaji dan bonus kita yang secara persentase tampak tinggi itu ternyata enggak ada apa-apanya dibandingkan dengan kenaikan laba perusahaan yang tampak kecil dalam persentase, tetapi begitu besar dalam nominalnya.

Gap malah semakin melebar. Kita penginnya bisa mendekati kekayaan mereka, agar bisa hidup dengan lifestyle mereka. Tetapi kenyataannya, peningkatan laba perusahaan yang menjadi milik owner yang tampak kecil dalam persentase, secara nominal justru jauh lebih besar. Jauh … jauh meninggalkan kita.

Dan melebarnya gap tidak berhenti sampai di situ. Kesenjangan pendapatan semakin melebar, tidak demikian dengan pengeluaran.

Orang-orang kaya ini sewajarnya membelanjakan kekayaannya pada properti, restoran, barang ataupun tempat hiburan yang premium dan membuat harga akan semakin mahal.

Dan, tebak, siapa yang mengikuti gaya mereka?

Tentu saja kita!

Investasi orang-orang kaya yang memiliki tanah di mana-mana membuat harga properti luar biasa mahal. Namun, kita akan tetap membelinya, bahkan mengusahakan semakin dekat tempat kita bekerja di pusat kota. Hal yang justru membuat harga menjadi lebih mahal. Kita bisa lihat kan, properti kita beli dengan cicilan hingga belasan tahun, dengan bunga KPR yang lebih besar dari rata-rata kenaikan gaji normal kita.

Lalu, siapa yang untung, yang punya 1 dengan susah payah atau yang punya di mana-mana?

Naik Gaji, Dihabisin, dan Nunggu Gajian Lagi - Untuk Apa?

Obsesi yang Salah Tempat

Sementara kita terobsesi pada mereka, para orang kaya. Sosok crazy rich yang begitu dipuja dan banyak diikuti. Membuat kita meng-upgrade diri dengan barang-barang berkelas, berusaha mendekatkan diri kita sendiri dengan citra kesuksesan tersebut. Meskipun sebenarnya menangys, karena gaji nggak pernah bisa mengejar.

Kita nggak sadar, walau pendapatan kita semakin besar, namun gap tersebut semakin jauh. Obsesi kita mengejar citra kesuksesan malah membuat kita terjebak pada siklus orang gajian yang nggak ada habisnya.

Beberapa orang yang berasal dari siklus orang gajian memang berhasil lompat menjadi bagian dari kesuksesan tersebut. Namun, jauh lebih banyak orang yang akan terus berlari mengejar ilusi kesuksesan, dan berakhir terus mengulangi siklus yang sama lagi dan lagi.

Kita mengidolakan mereka, tapi sayangnya, kita masih karyawan gajian yang tabungannya musiman.

Gap itu hanya akan semakin melebar. Mencoba meniru gaya hidup mereka sama saja menggali kuburan kita sendiri. Bila kita tidak memutuskan untuk segera bangun dan menyadarinya, kita akan terus terjebak dalam siklus orang gajian yang terus mengejar ilusi kesuksesan.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.