Equity

Nostalgia: Beda Investasi Saham Dulu dan Sekarang

Nostalgia. Nggak cuma buat masalah cinta atau sekolah, tapi bisa juga soal investasi saham. Buat kalian yang sudah beberapa lama—beberapa tahun, mungkin—sudah berinvestasi saham, ingatkah kalian pertama kali mulai investasi?

Mau cerita? Boleh, sila ditulis di kolom komen ya!

Memang perjalanan investasi setiap orang akan berbeda. Seiring waktu, juga banyak perubahan dan perkembangan yang terjadi. Yang paling terasa perbedaannya adalah yang berkaitan dengan perkembangan teknologi. Semakin canggih!

Thank to perkembangan teknologi juga, kini investasi bisa dilakukan oleh semua orang. So, kenapa enggak kita nostalgia sebentar yuk, mengingat perbedaan investasi saham yang dilakukan zaman dulu versus yang dilakukan di zaman now, ketika teknologi sudah merangsek ke dalam setiap aspek hidup kita.

Perjalanan Investasi Si Slave Berdasi

Masa pertama membuat SlaveBerdasi melalui blog ini di akhir tahin 2016. Waktu itu, ceritanya, lagi sumpek dengan kerjaan kantor. Akhirnya butuh penyegaran, pengin mencoba-coba hal baru.

Akhirnya, terpikirlah menulis blog ini, yang membahas segala hal tentang investasi dan kemerdekaan finansial. Agar lebih berkembang, juga coba untuk bergabung dengan komunitas. Bagi orang yang kadar introvernya 80%, hal ini tentu saja cukup challenging. Maunya sih nimbrung bergaulnya secara virtual saja, pun menggunakan “topeng” Daruma.

So, jadilah mengisi blog ini dengan berbagai pernak-pernik tentang investasi, terutama saham. Mulai banyak menulis analisis investasi, sekalian kan sambil melakukan analisis saham pribadi. Tapi, sayangnya, buat akses aplikasi investasi kantor itu enggak memungkinkan. Harganya ribuan dolar sebulan!

Jadi, ya mau enggak mau mengumpulkan data mentah saja dari berbagai sumber, lalu bikin sendiri deh chart-nya menggunakan Ms. Excel, untuk melihat pattern dan korelasinya.

Rasanya kayak bikin api pakai kayu yang digesek pas zaman batu. Pegel!

Dan karenanya, pernah salah langkah dulu. Ada perusahaan kontraktor swasta NRCA waktu itu. Impresi yang bagus, terutama setelah ketemu sendiri dengan manajemen. Di tahun 2018, kapitalisasi perusahaan ini rendah sekali, hanya Rp950 miliar, padahal mereka punya cash sebesar Rp800 miliar, belum termasuk aset dan tidak punya utang.

Ditambah lagi mereka memiliki prospek besar dengan rencana mengikuti tender tol patimban dengan probabilitas menang tender sangat besar. Sungguh menarik!

4 tahun kemudian, di tahun 2021, tender tol patimban masih tertunda, sementara bisnis konstruksi gedung tiarap karena pandemi. Harga sahamnya sudah pasti semakin turun, dan kapitalisasi pasar menyusut, hanya Rp750 miliar.

Inilah yang dinamakan value trap.

Dari situ, ada pembelajaran penting. Bahwa boleh saja valuasi sudah murah. Namun, bila industrinya lesu, gedung-gedung perkantoran semakin kosong akibat kebijakan WFH, perusahaan mana yang berminat membangun gedung perkantoran baru?

Semua itu harus dilewati dengan analisis manual, bak membuat api dengan cara menggesekkan kayu. Sungguh melelahkan.

Nah, memang begitulah investasi saham zaman dulu. Mau contoh yang lain lagi?

Ingin Segera Pensiun Dini? Ada Kelebihan dan Risikonya Loh!

Investasi Saham Zaman Dulu

1. Investasi saham cuma buat orang kaya

Zaman dulu, investasi saham identik dengan orang-orang kaya. Kalau mau jadi investor saham, maka kamu harus kaya lebih dulu. Ya, enggak heran sih, kan setoran pertama saham lumayan besar nominalnya, bisa sampai puluhan juta.

Kalau zaman sekarang sih, pasti ada di antara kamu yang sudah punya gaji Rp50 juta per bulan, barangkali ya? Zaman dulu, uang segitu luar biasa banget nilainya.

2. Harus pergi ke kantor sekuritas buat buka rekening

Untuk bisa mulai investasi saham, kita akan butuh dibantu oleh perusahaan sekuritas. Dulu, tentu saja, kita harus mendatangi kantor perusahaan sekuritas, dan mengurus semua birokrasinya di tempat itu. Mesti tanda tangan berlembar-lembar dokumen di sana.

Capek? Iyalah. Mana kalau mau beli sama jual juga ribet kan?

3. Mau analisis? Ya, manual dong.

Mau melakukan analisis? Ya, harus manual. Kayak cerita di atas, bak membuat api dengan menggesekkan kayu di zaman batu.

Aduh … ribet banget jelas.

Nostalgia: Beda Investasi Saham Dulu dan Sekarang

Investasi Saham Zaman Sekarang

Lalu bagaimana dengan investasi saham di zaman now?

1. Modal kecil

Modalnya enggak lagi besar. Bahkan dari Rp100.000 saja juga sudah cukup. Tentu saja tergantung saham mana yang mau kamu beli. Boleh beli minimal 1 lot, yang terdiri atas 100 lembar saham. Jadi, sesuaikan saja dengan kemampuan.

Misalnya punya uang Rp100.000, coba cari saham yang terjangkau. Tak hanya membeli, kamu juga harus melakukan analisis ya.

2. Online aja

Nggak perlu ke mana-mana, kamu bisa melakukan semuanya secara online sekarang. Pasalnya, setiap sekuritas atau broker saham sekarang selalu memiliki aplikasi mobile yang sangat user-friendly.

Untuk pemakaian sehari-hari lebih mudah, kamu bisa membeli dan menjual saham kapan pun, asalkan sesuai dengan jam buka pasar saham. Tinggal transfer untuk deposit, tak perlu lagi harus ke ATM atau ke teller bank, dengan dompet digital pun bisa.

3. Analisis pakai aplikasi aja!

Nah, ini nih yang paling membantu untuk investasi saham zaman now.

Zaman sekarang investasi sudah lebih mudah, nggak perlu lagi menghabiskan banyak waktu hanya untuk mengumpulkan informasi. Thanks to aplikasi yang sudah banyak dikembangkan.

Dulu, aplikasi saham yang ada masih sangat terbatas dan mahal harganya, sehingga hanya bisa digunakan oleh kalangan tertentu saja. Sekarang, buat investor individu kayak kita pun bisa pakai dengan bebas.

Plus, sekarang, hanya dengan satu aplikasi saja, kita sudah bisa mendapatkan kualitas informasi layaknya investor profesional, dan mudah juga dipakainya.

Salah satunya dengan aplikasi Stockbit.

Dengan membuka akun sekuritas di Stockbit, kita bisa mendapatkan fasilitas Stockbit Pro yang senilai Rp1.8 juta, gratis loh. Plus, ada fitur yang biasa dipakai oleh investor profesional sungguhan.

So, sudah enggak ada alasan lagi susah investasi saham kan? Tinggal, mau mulai kapan?

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.