Kebebasan Finansial

Strategi Pensiun Dini untuk Karyawan Swasta: Apa yang Mesti Disiapkan?

Pensiun dini adalah jawaban buat kamu yang sudah gerah jadi karyawan, baik kamu yang selama ini mengabdi sebagai ASN maupun karyawan swasta. Ya, sebabnya bisa macam-macam sih. Salah satunya karena merasa terjebak dalam ‘balapan tikus’, alias rat race.

Masalahnya, gerahnya ini bisa jadi hanya emosi sesaat. Nah, kalau misalnya memang lagi emosi saat mempertimbangkan pensiun dini, ada baiknya coba tenang dulu sejenak. Dinginkan kepala dan hati, biar masing-masing bisa bersuara dengan imbang.

Pasalnya, kadang yang terjadi adalah emosi sesaat itu bikin bias keputusan kita. Kalau lagi emosi, bayangan tentang pensiun dini itu enak. Nggak usah kerja, nggak usah diganggu bos, nggak usah babysitting co-worker, dan seterusnya. Itu yang kebayang.

Faktanya, perlu persiapan yang panjang untuk bisa pensiun dini dan seharian nggak diganggu kerjaan, karena itu artinya kita enggak punya pemasukan tetapi pengeluaran tetap ada—dan bisa jadi lebih besar!

Perhitungan pensiun dini karyawan swasta perlu banyak pertimbangan. Pasalnya, dengan memutuskan pensiun dini, artinya waktu persiapan semakin lebih sempit, dengan masa pensiun yang lebih panjang, dibandingkan jika kita pensiun normal.

Bayangan pensiun dini memang sangat menggiurkan, tapi di baliknya perlu persiapan yang lebih banyak.

Nostalgia: Beda Investasi Saham Dulu dan Sekarang

Peraturan tentang Pensiun Dini Karyawan Swasta

Sebenarnya, soal pensiun dini ini ada aturannya enggak sih?

Pensiun dini karyawan swasta yang dilakukan secara sukarela—bukan dalam arti ‘dipensiunkan secara dini’ oleh perusahaan, atau PHK—sebenarnya tidak pernah diatur secara resmi dalam undang-undang negara.

UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan tidak pernah secara eksplisit mengatur batas usia pensiun untuk karyawan swasta, melainkan hanya ada bagi ASN saja. Sedangkan, dalam UU No. 11 Tahun 1992 tentang Dana Pensiun, juga hanya mengatur mengenai hak manfaat untuk pensiun normal, dipercepat, ditunda, dan pensiun cacat.

So, semua tergantung pada perusahaan masing-masing. Karena memang setiap perusahaan punya aturan main sendiri-sendiri, jadi kamu perlu untuk mengeceknya dengan bagian HR di kantormu.

Perlukah Tambahan Dana Pensiun Lain Apabila Sudah Menjadi Peserta BPJS Ketenagakerjaan?

Perhitungan Pensiun Dini Karyawan Swasta

Nah, ini. Kuncinya memang ada di sini. Perhitungan, berapa dana yang bakal kamu butuhkan untuk bisa menjalani masa pensiun dini dengan baik. Dengan sejahtera.

Ya, maunya kan hidup sejahtera kan? Bukannya hidup kekurangan?

Beberapa hal yang menjadi pertimbangan untuk menghitung kebutuhan dana pensiun dini di antaranya:

Berapa Biaya Hidup Sekarang?

Pastinya, kamu enggak pengin jauh-jauh amat dari apa yang sudah kamu jalani sekarang kan? Bahkan, sih kalau bisa lebih baik. Tapi, mari kita start dari apa yang ada sekarang.

Jadi, coba buka catatan keuangan, dan bikin rata-rata pengeluaran per tahun. Misalnya, setiap bulan rerata kamu mengeluarkan Rp5.000.000. Artinya dalam satu tahun, pengeluaran kamu adalah Rp60 juta.

Berapa Lama Sebelum Kamu Pensiun?

Ingat, waktu adalah ‘partner’ terbaikmu untuk mempersiapkan dana pensiun

So, kamu pengin pensiun dini di usia berapa? Nah, usia pensiun dini hingga usia kamu sekarang, adalah waktu persiapan untuk pensiun. Makin panjang sebenarnya makin baik. Tetapi, kalau kamu mau pensiun dini sebagai karyawan swasta, maka ini artinya waktumu relatif akan cukup pendek.

Misalnya, kamu berencana untuk pensiun dini di usia 40 tahun. Sedangkan, sekarang usiamu 25 tahun. Artinya, kamu punya waktu 15 tahun untuk mempersiapkan semuanya. Kalau kamu berencana untuk pensiun normal, 60 tahun katakanlah, maka kamu punya waktu 35 tahun. Kelihatan perbedaannya kan?

Waktu lebih panjang, means beban akan lebih ringan. And vice versa.

Tingkat Inflasi sampai Masa Pensiun Tiba

Sudah ada nominal pengeluaran dan sudah tahu seberapa lama bisa dipersiapkan, sekarang kamu harus asumsikan tingkat inflasi hingga masa pensiun tiba nanti.

Berapa? Coba dicek rata-rata inflasi negara kita. Nah, ini perlu cermat sih, karena pandemi jadi tingkat inflasi kita sekarang rendah sekali, hanya satu koma sekian persen. Sedangkan sebelum pandemi rata-ratanya 5% sekian.

Pakailah angka yang paling masuk akal ya. Agak tricky, karena kalau kita pakai angka yang terlalu kecil, maka hasil perhitungan akan kecil juga. Akibatnya, bisa jadi biaya yang akan disiapkan akan kecil juga. Ya kalau cukup nggak apa, kalau kurang gimana dong?

Well, coba diambil saja misalnya tingkat inflasi 10%, karena rata-rata inflasi biaya pendidikan juga segitu, sampai dengan 12%.

Berapa Biaya Hidup di Masa Pensiun per Tahun?

Nah, sudah ada nominal pengeluaran di masa sekarang, ada tingkat inflasi, dan ada juga horizon waktu persiapan. Lalu, sekarang kita bisa menghitung berapa biaya hidup di masa pensiun nanti.

  • Pengeluaran per tahun: Rp60 juta
  • Waktu persiapan: 15 tahun
  • Inflasi: (asumsi) 10%

Nah, dengan rumus Future Value, kita akan bisa mendapatkan angka untuk biaya hidup di masa pensiun sebesar Rp250.634.890,16 per tahunnya.

Berapa Lama Angka Harapan Hidup?

Angka di atas adalah pengeluaran yang kamu butuhkan 15 tahun mendatang. Nah, harus dihitung lagi, per tahun selama kita masih hidup. Jika kita hendak pensiun di usia 40 tahun, terus mau menikmati hidup sampai berapa lama? Sampai usia berapa?

Angka harapan hidup orang Indonesia rata-rata adalah 70 tahun. Artinya, kita akan hidup selama 30 tahun berada di dalam masa pensiun.

So, kita bisa menghitung:

Rp250.634.890,16 dikalikan 30 tahun = Rp7.519.046.700

Tujuh miliar.

Banyak ya? Iya.

Tenang, angkanya memang besar, tetapi kita bisa kok mempersiapkannya jika memang berniat untuk pensiun dini. Apalagi jika nantinya kamu berhasil membangun passive income dengan baik. Uang untuk kebutuhan hidup akan mengalir dengan sendirinya ke tabungan kamu, siap untuk digunakan.

Strategi Pensiun Dini untuk Karyawan Swasta: Apa yang Mesti Disiapkan?

Strategi Karyawan Swasta untuk Pensiun Dini

1. Siap ‘berkorban’

Karena waktumu tidak banyak untuk mempersiapkannya, maka begitu kamu berniat untuk pensiun dini sebagai karyawan swasta, maka kamu harus siap mengorbankan beberapa hal.

Misalnya saja, kamu harus bisa hidup hemat, demi bisa mengalihkan dana lebih besar ke investasi. Kamu mungkin harus mengurangi nongkrong atau hedon yang lain, yang akan membuatmu mungkin harus menjalani kehidupan yang tidak sama dengan teman-temanmu di usia sekarang.

Namun, jika memang kamu punya target ketat pensiun dini, percayalah, saat mereka masih mengeluhkan pekerjaannya, kamu bahkan sudah bebas dari kerja.

2. Jangan asal investasi

Jangan sekadar investasi, apalagi cuma coba sana coba sini, FOMO sama apa yang sedang tren tapi belum terbukti ‘keampuhan’-nya.

Orang-orang yang usianya masih muda lainnya, barangkali akan banyak bertualang mencoba berbagai instrumen untuk eksperimen, karena mereka tidak berencana untuk segera pensiun dini dari statusnya sebagai karyawan swasta.

Kamu punya target sendiri. So, berinvestasilah sesuai dengan rencana dan tujuan keuanganmu.

3. Targetkan aset yang dapat memberi passive income

Memiliki passive income yang cukup menjadi kunci untuk bisa menjalani masa pensiun sejahtera, termasuk ketika kamu memutuskan untuk pensiun dini sebagai karyawan swasta.

Misalnya: target punya kos-kosan atau properti untuk disewakan, punya surat berharga yang bisa memberimu kupon atau dividen secara teratur, dan sejenisnya.

Kesimpulan

Jadi, sampai di sini gimana? Masih berniat untuk segera pensiun dini sebagai karyawan swasta? Bukan hal yang mustahil untuk dilakukan kan?

Ya, kenapa enggak? Asalkan kamu siap dengan segala konsekuensinya. Komitmen dan konsisten, itu kuncinya.

So, selamat mempersiapkan pensiun dinimu ya!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.