Kebebasan Finansial

Begini Cara Diversifikasi Investasi yang Benar

Ketika kamu terjun ke dunia investasi, mungkin sudah tidak asing lagi dengan yang namanya diversifikasi investasi. Diversifikasi banyak dibicarakan karena dianggap sebagai strategi terbaik untuk melakukan investasi, terutama dari sisi manajemen risiko.

Selain itu, dengan melakukan diversifikasi, kamu dapat memastikan keuntungannya juga. Well, setiap orang yang melakukan investasi tentu saja ingin memperoleh return yang menguntungkan bukan? Entah itu dalam bentuk investasi jangka panjang hingga produk investasi jangka pendek sekalipun. Maka dari itu, strategi investasi bernama diversifikasi bisa kamu gunakan karena sampai saat ini strategi diversifikasi masih direkomendasikan oleh pakar keuangan. Lalu, apa itu diversifikasi?

Definisi Diversifikasi Investasi

Strategi Investasi Dollar Cost Averaging: Apa yang Perlu Kamu Tahu?

Diversifikasi investasi adalah strategi investasi yang memungkinkan para investor untuk menaruh dana investasinya di beberapa jenis instrumen investasi, setelah melalui beberapa analisis yang saksama. Untuk apa mereka melakukannya>

Mungkin kamu pernah dengar tentang, “Don’t put your eggs in one basket”. Secara bahasa, peribahasa tersebut bisa diartikan jangan meletakkan telur-telurmu di dalam satu keranjang.

Kenapa nggak boleh? Karena apabila keranjang tersebut jatuh, dan semua telurmu ada di satu keranjang saja, maka seluruh telur yang kamu miliki akan pecah. Hal ini juga berlaku untuk investasi, yaitu jangan mengalokasikan seluruh dana yang kamu miliki hanya pada satu instrumen investasi saja. Nah, inilah yang dimaksud dengan diversifikasi investasi.

Untuk melakukan strategi ini, kamu sebagai investor harus menciptakan banyak portofolio yang beragam untuk mengurangi risiko kerugian. Misalnya, apabila kamu hanya menaruh investasi pada satu emiten saham saja, lalu nilai saham perusahaan tersebut tiba-tiba anjlok dan melemah. Imbasnya, investasi kamu secara keseluruhan akan berkurang dan memiliki potensi merugi sangat besar.

Namun, ketika kamu melakukan pembagian dana investasi yang kamu miliki, lalu membeli dua atau lebih jenis emiten saham yang berbeda, maka hal tersebut tentu mengurangi risiko akan adanya kerugian. Bisa saja yang satu memerah, yang lain masih stabil, dan yang lain lagi mungkin hijau. Maka yang hijau akan dapat menutup kerugian saham yang memerah.

Teknik Diversifikasi Investasi

Begini Cara Diversifikasi Investasi yang Benar

Untuk menggunakan strategi diversifikasi investasi ini, kamu perlu mengetahui beberapa teknik. Berikut di bawah ini adalah teknik diversifikasi investasi yang perlu kamu ketahui.

1. Pahami Risk Tolerance Diri Sendiri

Prinsipnya adalah seimbang.

Kamu perlu untuk menyeimbangkan antara tujuan keuangan dengan manajemen risiko, sehingga target investasimu akan “terasa” lebih mudah untuk dicapai.

Biasanya, investor yang memiliki toleransi terhadap risiko tentu akan berinvestasi dengan instrumen yang memiliki risiko tinggi juga. Dan begitu pun sebaliknya.

Instrumen investasi yang ada memiliki tingkat risiko yang berbeda-beda, mulai dari tinggi, menengah, hingga rendah. Kamu bisa memilih tingkat risiko dengan bebas, asalkan disesuaikan dengan karaktermu sendiri. Istilahnya, masih di dalam batas aman masing-masing.

Hal ini dilakukan agar keuntungan yang kamu dapat bisa maksimal, tapi sekaligus dapat mencapai manajemen risiko yang baik.

Maka dari itu, kamu perlu mengetahui mana instrumen investasi yang memiliki risiko rendah, menengah, dan juga tinggi. Dan kamu juga perlu mengetahui mana yang bisa kamu tangani atau toleransi risikonya, dan mana yang baiknya harus dihindari, terutama yang bikin kamu sport jantung atau bikin nggak bisa tidur.

2. Hitung Target Investasi yang Diinginkan

Keuanganmu sendiri haruslah menjadi tolak ukur di setiap ingin melakukan investasi. Ingat ya, kondisi keuanganmu sendiri. Bukan keuangan orang lain. Kenapa? Ya, karena yang akan diinvestasikan adalah duit kamu sendiri kan? Bukan duit orang lain.

Saat ingin menjalankannya, kamu pasti memiliki target untuk apa? Lalu berapa kebutuhannya? Dan berapa lama waktunya?

Maka dari itu, menghitung target adalah salah satu hal yang cukup penting. Untuk mencapai target, kamu akan butuh berapa banyak keuntungan dan tentukan target waktunya. Perhitungkan dengan angka imbal dari instrumen investasi yang ingin digunakan. Buatlah asumsi, namun ingat juga bahwa asumsi itu “selalu” salah. Yang artinya, saat inilah manajemen risiko sangat diperlukan.

Sebut saja reksa dana, biasanya manajer investasi sudah menyediakan perhitungan imbal berdasarkan angka terdahulunya. Kamu dapat menganalisis dan menghitung ulang dengan bantuan dari manajer investasi yang ada.

Ini Dia Perbedaan Menabung dan Investasi yang Perlu Kamu Tahu

3. Lakukan Rebalancing secara Rutin

Rebalancing adalah salah satu teknik diversifikasi investasi yang juga perlu kamu lakukan untuk mencapai target keuanganmu. Secara khusus, rebalancing adalah suatu proses ketika kamu sebagai investor menyeimbangkan bobot aset yang diinvestasikan dalam portofolio investasi.

Pada saham sendiri, rebalancing ini bisa dibilang sebuah kegiatan transaksi membeli atau menjual aset di dalam portofolio untuk menjaga nilai aset sesuai yang diinginkan. Nah, ini bisa juga berarti lintas instrumen. Bisa saja di sini kamu mengombinasikan saham dengan emas, misalnya.

4. Pahami Kapasitas Risiko

Dalam investasi, kamu sebagai investor bisa saja mengambil risiko yang lebih besar melebihi tingkat risiko yang bisa kamu tanggung. Hal ini wajar saja sih.

Ketika menjalankan investasi, di satu waktu, kamu harus memiliki sifat yang konservatif, sementara di lain waktu, kamu juga harus mengambil keputusan yang lebih agresif.

Banyak faktor, seperti bobot dana yang ada di dalam tabungan, nilai aset saat investasi, hingga tujuan keuangan, dapat menentukan kapasitas risiko yang kamu miliki. Tak ada yang salah dengan hal ini. Yang penting, kamu memang paham betul setiap risikonya, dan siap pula menghadapinya.

Maka dari itu, ada baiknya apabila kamu mampu memahami sejauh mana kapasitas risiko yang kamu miliki.

5. Fokus Tujuan Finansial untuk Jangka Panjang

Ketika kamu mengelola portofolio investasi, gunakan banyak cara pendekatan keseimbangan dan disiplin sehingga investasi kamu dapat lebih fokus terhadap tujuan jangka panjang. Terkadang kita tergoda untuk melakukan investasi dengan hanya fokus pada instrumen yang mampu memberi return yang tinggi, atau yang sering direkomendasikan oleh pakar, tanpa mempertimbangkan diri sendiri untuk menggapai tujuan finansial di masa depan.

Nah, ini nih yang biasanya menjadi masalah nantinya.

Apabila kamu saat ini sudah memasuki masa pensiun, kamu wajib memulai untuk mempertimbangkan jenis investasi yang cocok untuk kamu geluti guna memenuhi kebutuhan dana pensiun nanti. Jenis investasi apa pun yang ingin kamu coba, pastikan dahulu apakah jenis investasi itu sesuai dengan risk tolerance dan tujuan finansial kamu.

Fokuslah pada tujuan finansial dan kebutuhan kamu, baik untuk jangka panjang maupun jangka pendek, agar bisa membantu kamu bertahan melewati masa sulit dan membantu meningkatkan aset hingga mendapat keuntungan yang lebih maksimal dari diversifikasi investasi kamu.

Contoh Diversifikasi Investasi

Rule 72: Aturan Melipatgandakan Hasil Investasi yang Perlu Kamu Tahu

Nah, mari kita ke contoh penerapan diversifikasi investasi. Kita ambil contoh instrumen reksa dana saja ya.

Ketika kamu bermain instrumen investasi reksa dana, misalnya, pasti akan timbul pertanyaan berapa besaran persentase yang tepat untuk diversifikasi reksa dana. Setiap investor tentu dapat merancang rencana diversifikasi yang sesuai dengan tujuan masing-masing. Sebagai gambaran awal, coba simak contoh diversifikasi investasi berikut ini.

1. Investor Konservatif (Tidak Menyukai Risiko)

Investor konservatif ini biasanya lebih suka untuk memiliki target investasi jangka pendek, yaitu di bawah satu tahun. Kalaupun tujuan keuangannya jangka panjang, mereka akan lebih suka memanfaatkan instrumen jangka pendek tetapi mungkin jenisnya bisa beragam, atau lebih sering di-topup.

Contoh diversifikasi investasi yang bisa dilakukan misalnya reksa dana pasar uang 70-80 persen, dan reksa dana pendapatan tetap 20-30 persen.

2. Investor Moderat (Toleran Menengah Terhadap Risiko)

Investor moderat biasanya memiliki target investasi jangka menengah, yaitu 1 hingga 3 tahun.

Contoh diversifikasi investasi yang bisa dilakukan adalah reksa dana pendapatan tetap 70-80 persen, dan reksa dana pasar uang 20-30 persen.

3. Investor Agresif (Toleran Tinggi Terhadap Risiko)

Investor ini umumnya memiliki target jangka panjang, yaitu lebih dari 5 tahun. Maka contoh penerapan diversifikasi investasi yang bisa dilakukan adalah reksa dana saham 70-80 persen, dan reksa dana pasar uang atau pendapatan tetap 20-30 persen.

Beberapa contoh di atas adalah gambaran saja untuk kamu yang ingin menggunakan strategi diversifikasi investasi. Dan untuk komposisi persentasenya bisa kamu rancang sesuai dengan kemampuan dan profil risiko masing-masing. Misalnya kamu memiliki target panjang namun memiliki sifat moderat, maka kamu bisa mengaturnya menjadi reksa dana pasar uang 40 persen, reksa dana pendapatan tetap 40 persen, dan saham 20 persen. Atau, kamu bisa juga memanfaatkan reksa dana campuran.

Nah, semoga sampai di sini, kamu sudah paham betapa pentingnya diversifikasi investasi, dan bagaimana cara melakukannya. Karena dengan begitu, kamu bisa mendapat keuntungan lebih banyak, dan menghindari risiko kerugian yang lebih besar.

Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.