Equity

The Fed Naikkan Suku Bunga Acuan: Apa yang Harus Kita Lakukan?

Jadi gimana nilai investasimu saat ini? Merah membara? Yes, pasar modal sedang dilanda tsunami. Semua gara-gara terjadi inflasi tak terkendali di Amerika Serikat, yang “memaksa” The Fed untuk menaikkan suku bunga acuan secara agresif. Kalau biasanya kenaikan ini berkisar 0.25% hingga 0.5%, kali ini The Fed sampai menaikkan tingkat suku bunga ini sebesar 75 basis poin.

Inflasi Amerika Serikat yang sebesar 8.6% terjadi di bulan Mei 2022 kemarin, dan angka ini adalah yang tertinggi dalam 41 tahun. Ada berbagai macam faktor penyebab tingginya inflasi ini. Salah satunya terjadi krisis energi akibat perang Rusia – Ukraina, dan juga meningkatnya jumlah lowongan kerja sehingga tingkat pengangguran menurun. Hal ini menyebabkan daya beli masyarakat naik, sehingga demand pun melampaui supply barang.

Menelusuri berita sana-sini, bahkan, The Fed juga mewacanakan hendak menaikkan suku bunga acuan ini hingga 2.75% di akhir tahun ini, kalau perlu.

Tapi, btw, siapa sih The Fed ini?

Belajar dari Pengalaman Saham Saya yang Naik 600%

Sekilas tentang The Fed

Ya, barangkali ada di antara kamu yang memang masih awam, dan belum kenal dengan The Fed, ada baiknya kita bahas dulu sedikit.

Adalah Federal Reserve System, yang disingkat dengan sebutan The Fed, yaitu bank sentral Amerika Serikat—lembaga independen yang salah satu tugasnya adalah menjaga stabilitas ekonomi negara adidaya tersebut. Sebagai lembaga independen, segala kebijakan yang diambil oleh The Fed sepenuhnya lepas dari izin pemerintah. Meski demikian, dalam praktiknya, operasional tetap dalam pengawasan pemerintah AS.

Menjaga stabilitas ekonomi ini termasuk mengatur besaran suku bunga. Makanya, banyak mata mengawasi setiap pergerakan kebijakan The Fed, karena suku bunga acuan yang ditentukan oleh mereka akan memengaruhi ekonomi global.

Kok bisa ya?

Ingin Segera Pensiun Dini? Ada Kelebihan dan Risikonya Loh!

Dampak Kenaikan Suku Bunga Acuan The Fed

Ya, logis saja. Amerika Serikat—sebagai salah satu negara terbesar dan adidaya—memiliki peran besar terhadap perputaran roda ekonomi dunia. Banyak negara memiliki relasi dengan Amerika Serikat, dari banyak sekali sektor. Kebijakan The Fed akan memengaruhi kebijakan pemerintah AS. Hingga kemudian, pengaruh ini juga akan terasa pada relasi dengan negara-negara lainnya.

Seperti kenaikan suku bunga acuan ini. Adanya kenaikan ini membuat aktivitas penanaman modal di AS begitu menarik. Ya, siapa yang enggak tergiur oleh bunga minimal 1.75%? Hal ini akhirnya menarik investor besar untuk hengkang dari pasar modal negara-negara lain di dunia untuk masuk ke Amerika Serikat. Pasar negara lain ini menjadi tidak menarik lagi, karena sebesar apa sih kita kalau dibandingkan dengan pasar AS?

Akhirnya terjadi aksi jual saham oleh investor asing yang ingin memindahkan asetnya ke AS. Karena aksi jual massal ini, nilai saham di pasar-pasar modal dunia selain AS menjadi goyang. Inilah yang terjadi di sepanjang Mei kemarin, ditambah lagi dengan kembali dinaikkannya suku bunga acuan di bulan Juni sebesar 75 basis poin.

Kenaikan ini meningkatkan tekanan terhadap pasar obligasi, termasuk Indonesia. Banyak analis dan pakar yang memperkirakan bahwa pasar obligasi Indonesia akan terus mendapatkan efek ini hingga akhir Juni. Hingga, besar kemungkinan, Bank Indonesia juga akan mengikuti kenaikan suku bunga yang dikeluarkan oleh The Fed. Ditambah lagi dengan kecenderungan rupiah yang bergerak melemah.

Meskipun IMF sendiri memprediksi, bahwa Indonesia lolos dari resesi yang akan melanda dunia dalam waktu dekat, tetapi toh kita tidak dapat menghindari dampak dari kenaikan suku bunga acuan The Fed ini. Lalu, sebagai investor, apa yang harus kita lakukan?

The Fed Naikkan Suku Bunga Acuan: Apa yang Harus Kita Lakukan?

Berinvestasi di Tengah Naiknya Suku Bunga The Fed

Meski terombang-ambing, ternyata masih banyak pelaku pasar yang percaya bahwa market Indonesia masih bisa terus bertahan di tengah masalah yang timbul akibat naiknya suku bunga acuan The Fed. Terbukti dari beberapa emiten saham masih laris dibeli oleh investor asing. Belum lagi investor ritel dalam negeri juga masih antusias memantau pasar.

Buat kamu yang galau karena kondisi belakangan, berikut beberapa tip yang bisa kamu coba lakukan.

1. Jangan panik

Langkah pertama, tak perlu panik saat melihat portofoliomu menurun nilainya. Apalagi kalau ternyata kamu berinvestasi untuk jangka panjang. Penurunan ini hanya bagian dari siklus. Pada waktunya, yang turun akan naik, yang naik akan turun.

Tidak panik dan bisa mengelola emosi akan membantumu mengambil keputusan yang tepat. Jika memang terpaksa harus melepas aset dalam portofolio, kamu bisa melakukannya dengan perhitungan yang tepat, tak sekadar emosi sesaat. Efeknya sudah pasti akan beda nantinya.

2. Diversifikasikan

Diversifikasikan produk investasi yang kamu miliki, sembari menunggu posisi koreksi sehat dari Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG. Setelah itu, kita bisa masuk ke pasar saham maupun reksa dana dengan kondisi pasar yang sudah kembali naik.

Salah satu opsinya adalah memindahkan ke obligasi korporasi yang lebih enggak likuid. Dengan demikian pergerakan harganya juga tidak terlalu fluktuatif, tetapi mampu memberikan imbal yang lebih besar daripada obligasi pemerintah.

3. Amati dan sesuaikan proporsi portofoliomu

Strategi pengelolaan portofolio pada dasarnya tergantung pada kebutuhan, kemampuan, dan minat atau profil risiko masing-masing investor. Karena itu, agar sesuai dengan apa yang menjadi tujuan, amati terus perkembangan pasar. Terutama soal perkembangan inflasi dan kebijakan suku bunga, baik yang terjadi di Indonesia maupun di negara-negara lain yang berpengaruh—seperti AS. Dengan demikian, kita bisa mendapatkan sinyal waktu yang tepat demi mendapatkan yield yang bagus.

Kamu bisa mencoba proporsi berikut ini:

  • Investor agresif: 30% instrumen pasar uang, 40% instrumen saham atau reksa dana saham, dan 30% untuk instrumen lain, mulai dari obligasi, emas, dan sebagainya.
  • Investor moderat: 50% instrumen pasar uang, 20% untuk instrumen saham atau reksa dana saham, dan 30% instrumen lainnya.
  • Investor konservatif: 70% instrumen pasar uang, 10% instrumen saham atau reksa dana saham, dan 20% untuk instrumen lainnya.

Angka tersebut tidaklah absolut, tentu saja. Kamu bisa menyesuaikannya sesuai kebutuhan dan kondisi.

Nah, itu dia strategi investasi yang bisa kamu coba di masa-masa tak tentu akibat kenaikan suku bunga acuan The Fed seperti sekarang. Semoga bermanfaat ya.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.